Nurel Javissyarqi*
Perempuan itu kelembutan bathin, kehalusan air, hati yang mengarus. Jiwanya ombak senantiasa memiliki keyakinan, yang menampilkan pamor kecantikan. Keteguhannya, kesabaran mengaliri tiap-tiap cela kehidupan. Tanpa dirinya, dunia kering-kerontang tiada ricik-gemericik tangis bayi para insan. Dan kaum lelaki tongkat estafetnya, saat menyadari pentingnya kembang jiwa.
Ini bukan kehendak menuturkan siang-malam, tapi menciptakan kesatuan harmoni, fajar rahmat, senja temaram yang berpelukan. Dalam percumbuan manis, kreasinya terus menggelora, menyedot bak magnit atau garam guna-guna, yang disebar di setiap pepintu lelaki melangkahkan kaki ke luar rumah.
Senyum penantiannya sepenuh harapan, melihat dunianya membawa manfaat laki-laki menjejakkan kepercayaan, meneruskan langkah sebagaimana nafas-nafas doa. Bukan berarti berdoa tanpa aktivitas, kreativitasnyalah harapan.
Wanita bukan pemancing atau ikannya. Ia mampu jadi penjala paling lihai di antara lelaki, atau kedudukannya sepadan gairah mewujudkan keinginan-keinginan hayat. Munculnya hantu-hantu, sebab keterasingan, keterkucilan yang tak memahami karakternya.
Wanita bukanlah hantu menakutkan atau penggoda. Karena para lelaki pun memiliki daya rangsang yang serupa, ketika memasang ranjau pikatnya. Dalam sifat dasarnya, keduanya menuntut berbeda yang awalnya berangkat dari pengertian-pengertian, lantas menuju kedewasaan makna.
Adalah sejarah sosial insan, terkuasai perkembangan materi yang menciptakan keduanya berbeda, berangkat dari didikan, tingkah pakola norma yang dibangun sejak kesadarannya belum terbentuk.
Saat keduanya mencapai kebebasan kesadaran, yang tampil bukan saling menyerang, tapi topang-menopang bantu-mengisi. Maka usalah hawatir munculnya hantu feminisme. Perbedaan malam-siang sebagaimana wewarna perasaan, yang menajamkan sudut-sudut singgung pada awal terciptanya gagasan.
Keduanya memiliki kekuatan mengolah bencah materi, menempati alam spiritual sendiri-sendiri. Tidak jauh berbeda saat menggunakan kacamata obyektif pada daerah kekuasaan, atas telah mampu mempelajari realitas kesungguhan.
Tidakkah ketakutan muncul sebab merasa tidak mempunyai tameng atas kedatangannya? Ketakutan menjelma hantu menerkam, padahal bukan saingan melainkan pendamping. Maka berilah lahan seluasnya berekspresi, membuka jalan mempelajari was-was, dengan menyadari fitrohnya. Dan ketakutan itu hakikat kekalahan sebelum mata menyapa takdir jaman.
Kemampuan air menjelma beku, seharusnya dipelajari, agar dalam mengembangkan pengetahuan tidak timpang menimbulkan peperangan. Kita sering menyuntuki apa yang tersukai dan menghindari yang ditakuti. Maka timbullah rasa cemburu, fikiran negatif merusak pribadi.
Wanita sejatinya tidak menuntut berlebih kiranya lelaki memberi pandangan fitri kepada sosoknya. Adalah miris dinaya ketakutan kaum lelaki, menjadikannya pemenang semu. Lalu, atas tekanan bertubi-tubi, wanita menjelma pemberontak.
Sementara hakikat niat memiliki sifat kewanitaan juga kelelakian. Yang membedakan ialah fitrohnya, sedangkan kedudukan nalar serta spiritualitasnya sama berdayadinaya. Sebab keunggulan insan pada realitas kerjanya tubuh dan jiwa, seiring sejalan menciptakan kualitas dirinya paripurna.
*) Pengenala, 17 Mei 2006, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar