Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
Seorang kelana kecapean, biasanya kalau tiba di puncak suatu bukit berhenti sebentar, lalu memandang ke lembah di bawahnya. Ia melihat keseluruhan pemandangan indah pelbagai macam, hanya sambil dilakukan di perjalanan. Ini suatu gambaran simbolis arti Mozart dalam musik. Ialah lembah indah itu. Berada di pinggiran sejarah dan evolusi musik, tak punyai maksud seperti Wagner. Tidak mencari bentuk baru, tetapi yang ada dibawanya ke puncak kepurnaan. Kalau kita hanya punya Mozart, musik akan banyak segi-seginya seperti sekarang. Semua kita jumpai padanya mempunyai hampir sama, kecuali barangkali minatnya untuk alam. Seluruh memuas pada Mozart: ruh, hati, perasaan, kenangan. Keajaiban lain bisa menuang semua ini dalam bentuk sempurna, yang selalu menampung isi. Ketawa meriang, airmata paling menyedihkan pandangan, yang penuh duka dan kegembiraan memuncak, semua itu dituangkan juga dalam bentuk soneta yang sulit.
Tak seorang penyair musik mengenal kepahitan, serupa ia tiada yang mencipta musik kegembiraan itu. Hampir selamanya Mozart mengakhiri dengan nada riang kalbu. Ia lekas melupa……Sedang dalam hidupnya masa-masa riang kurang, namun saat-saat dukalah hampir tak ada dalam musiknya. Dengan Mozart kita berhadapan masalah pelik: perpisahan antara manusia biasa dan seniman penciptanya. Itu soal memusingkan yang tak bisa didalami. Andaikata bisa dipecahkan, mungkin kita mengerti keanehan Mozart, dan bisa tahu rahasia seninya {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***
Wolfgang Amadeus Mozart (27 Jan 1756 - 5 Des 1791), seorang komposer produktif berpengaruh dari zaman Klasik.
Telah mencipta lebih dari 600 karya, banyak diakui sebagai puncak simfoni, concertante, kamar, piano, opera serta musik paduan suara. Ialah paling populer enduringly komposer klasik.
Di sini, aku menarik watak musiknya segarisan pantul hayatnya, dengan diiringi petikan piano oleh Yuja Wang kala belia atas karya Mozart.
Sungguh bertolak gambaran nasibnya yang sempat sebagai pemusik istana di Salzburg. Tersebab gelisah, berkelana mencari posisi terbaik jiwanya, dengan tekun menulis hingga berlimpah.
Mengunjungi Wina tahun 1781, di mana mencapai puncak ketenaran, namun sedikit uang yang didapat.
Meninggalkan istrinya Constanze, pula kedua anak laki-lakinya. Mozart terpaksa kurbankan semua, mungkin demi mendapati ketenangan bermusik dalam jiwanya.
Waktu berolah rasa kepahitan, musiknya seolah pelepas penat bathiniah, yang bertambah meradang ke relung-relung sukma.
Hatinya dilayarkan angan untuk mengimbangi tempaan pedih kembara, bergelayut menemui keriangan.
Seakan tuhan meniupkan ruh halus ke ubun-ubun yang didera kemalangan, sedari ketulusan berjiwa mantang.
Tiada ganjalan meski sejumput umpat dalam musiknya, melodian berlarian selincah kaki-kaki kanak diberkahi keriangan dunianya.
Mozart girang belajar pada semua, mengembangkan bakatnya lewat berbagai gaya, hingga peroleh keanggunan ruh pesona.
Seperti bebuah anggur matang pencarian cahaya matahari, dari kemelaratan di gang-gang kota; tekadnya berkehendak berbagi senyuman.
Beethoven pun menulis sendiri komposisi awal dalam bayangan Mozart, ialah seniman sejati yang sanggup merindingkan bebulu, bagi mendalami karakternya.
Yang dibangunnya keniscayaan hidup, tempaan ruang-waktu, debu-debu di sudut kota Wina; melewati sungai diperoleh bayangan dirinya, tersenyum mekarkan jiwa-jiwa.
Pancaindranya cerlang gemilang memancarkan cemerlang, segemintang terang di langit malam.
Dengan secarik kertas meyakinkan pribadinya dipenuhi nikmat ketaatan nasib yang diemban, berbuah senandung merdu mengisi tiap jaman. Mozart tersenyum dalam diam.
Cobaan hidup letih perut, mata berkunang, sakit demam berat kepala, pun serba kurang lainnya.
Dihayatinya sampai kelezatan ganjil; hanya orang tertentu mampu imbangi kekurangan, dengan tidak berhenti dalam kepasraan.
Ditekannya semua demi keindahan musik yang diperjuangkan berabadi, ke dasar kehakikian.
Mencari yang dikehendaki waktu terbesar takdirnya; betapa manis ruang kepahitan itu.
Jiwa Mozart terkepal padat sebatu-batu sungai, bening air menampakkan keelokan. Kesabaran menuntun ke segenap pandang ilalang persoalan.
Menjelma senandung kesantunan sahaja, dari ketabahan diolah berulang demi purnanya jiwa temukan watak paripurna.
Keselarasan riwayat digembolnya di jalanan mengarungi masa-masa, makin genap terus berulang.
Dibalik tekunnya latihan; bermusik, berpuisi, ialah hasil mempurnakan soal kehidupan.
Sang seniman pertaruhkan segenap jiwa-raga persembahkan kemajuan, tapak-tapak dilalui sewujud bakti hayati.
Meraih yang diwedarkan bau kembang, warna dedaun di gelap malam, terang siang, angin membius pandangan.
Keterlenaan, terburu, membuncah dalam gejolak kawah memerah di tubuh kadikjayaan;
titian penyebrangan menunjukkan keberhasilan belajar, pula menyinauhi lewat bersuntuk perihal alam diri.
Dan Yuja Wang telah sejak kecil digembleng kesabaran, pribadi mungilnya belum penuh menyadari pesan ajaib yang disenandungkan Mozart.
Musik dilantunkannya memberi banyak pengajaran tanpa menggurui, demikian keberhasilannya karya seniman sejati.
Memberi petuah tak harus menyenggol penalaran pribadi, tetapi melantak fikir berharmoni membius.
Yang terjadi, kenangan timbul sendiri, hanyut ke dasar lamunan waktu membentangi maknawi.
Hati tak mau beranjak pergi, sebab tengah diruapi gelombang laut kesadaran buih nikmat tiada terbilang.
Juga tidak terlena, sebab dataran pedalaman menyambut dengan wajah sumringah; diolah leladangnya bagi kemakmuran bersama.
Demikian seperti gambaran gagasan filsuf Thales (624-545 SM), akan keindahan penyebaran demi kemeriahan cahaya kemanusiaan.
Dari keterbatasan, Mozart memiliki kelapangan jiwa, kesahajaannya tercermin pada keluwesan bermusik.
Sonetanya lembut sericikan ombak di kaki-kaki pejalan malam, tubuh perasaan pantai membujur dalam penantian.
Para penyimak diserang kehausan, ruh-ruh merindu tarian, memenuhi bathin insani.
Kegirangan jelita, kesenduan perempuan dan peristiwa rahayu; renungannya bening menuju alam suksa.
Betapa halus tiada tampak rayuan, namun jiwa-jiwa larut dalam kidung kekudusan.
Keajaiban nasib pahit memberkah di setiap lekukan memaknai nyawa.
Debu-debu beterbangan, segemintang disorot cahaya dan pagi suci menaburkan harapan.
Semua terangkat dengan tarikan tubuh dinaya, sebinaran perasaan membumbung ke angkasa.
Diterbangkan angin di padang purnama; naluriah mengejawantah atas nafas-nafas bertembangan sentausa.
Ketika mengawali musik kesedihan, keperihan hati tak membuat mati ruh perasaan.
Ada sentuhan gaib terpantul, meniscayakan daya sesal demi meniti jalan kembali dengan kehati-hatian.
Mengembalikan denting kelahiran, kefitrian melembut pandangan bathin kedewasaan, air mata tumpah menyeruah.
Embun gugur matangkan daun, demi mengenal masa sesungguhnya.
Menghitung nada juwita, tapakan pelahan penuh yakin, atas meresapi tingkatan pedasnya hayat yang kadang tak kenal persaudaraan.
Mozart menuntun kalbunya, memeram perih menjelma garam pengetahuan. Untuk ikhlas mencerna kehalusan bathinnya, bersanding disegenap warna masa depan.
Ialah pelajaran jarak waktu, menekuni hidup bertafakkur dari tiap-tiap tekukan peristiwa.
Dicumbui kerelaan, kepasrahan seniman ulet berkeindahan bagi sesama, atas karunia-Nya.
Keselarasan irama bergandeng perubahan, dari lentikan kasih sayang alam kepada kehidupan.
Pengajaran tiada habis, tidak tandas masa berlarut kepahitan, oleh keteguhan berharap keharmonisan.
Sungguh kepahitan menyenangkan dikemudian, kenangan abadi diceritakan. Ke alam apa pun tetap merdu berkumandang.
Matang mempelajari alam antara, menjelma alunan ke setiap telinga, mencecap kerinduan puja.
Begitulah musik penyair Mozart hidup di antara kita, menghibur kegundahan yang datang tidak tentu arah.
Tampilkan postingan dengan label Mozart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozart. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Maret 2010
Minggu, 17 Januari 2010
Goethe Di Antara Mozart dan Beethoven
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
Pada Mozart, katanya hati mencurah dalam angan-angan yang halus, sedangkan pada Beethoven, angan-angan bercepatan dengan beraninya ke yang tak berakhir: itulah kepenuhan rasa yang berhadapan dengan keyakinan daripada tenaga (J. Van Ackere).
Kita dapat pergunakan keduanya, tergantung kejiwaan saat-saat membuahkan karya, bisa berpandangan Mozart ketika jiwa dalam keadaan tersedot peristiwa, terhisap daya pesona semisal kegemilangan iman.
Memasuki angan halus berharap sangkaan lembut menjelma formula penentu gerak laju melembutkan perasaan terdalam. Di kedalamannya ranting kering dihanyutkan arus besar, kerendahan hati menyimak situasi makna terhadapi, apakah daya hidup melembut dalam kemanunggulangan alam ataupun pencipta.
Semacam keterheranan tak mematikan, ketakjuban menarik kalbu mengikuti penanda, apakah angin atau teguran tak disengaja menggelinjak seirama yang tengah terbangun. Dan setiap langkah seakan bocah terbuai suasana, larut ke semenanjung kemungkinan selepas lantas tertandakan angan pertimbangan nalar sebelumnya.
Mozart bukan pendorong tapi sosok perayu memangfaatkan situasi mereproduksi kesaksian, tergetarlah jiwanya menggetarkan sesama. Seperti awan menyapu ubun-ubun pegunungan ke lereng lembah kemajuan renungan, pula dinaikkan angin firasat menjelma kabut dataran tinggi menyadarkan puncak-puncak lain setelah mengikuti yang terejawantah kepasrahan.
Mozart tidak memompa jiwanya namun pergunakan momen sekecil-kecilnya mengisari diri, tak sadar terangkat membumbung bersamanya terbang. Inilah kesaksian penerima takdir menghadirkan yang seolah tak terbayang tapi sudah ada gambaran. Alam bawah sadar menguntit keasyikan sambil terus membaca situasi agar tak buyar bangunan logika, sebelum beredarnya kemungkianan jauh memukau.
Di jalan Mozart tiada kerikil tajam kecuali menandaskan nikmat mengunyah kesendirian dalam gua pertapaan bathiniah, melangsungkan perkawinan malam-malam, tak habis-habisnya gurih tiada jemu menenggak manisnya indrawi; fitroh jiwa senantiasa perawan kecuali perasaan insan bebal panggilan.
Kegembiraan jauh kebendaan yang tercukupi limpahan pengabdian berkarya, selalu merasakan puncak menggetarkan kesaksian. Penglihatan kalbunya menyingkap hijab direguk tiada banding, angan-angan menjelma bangunan musik kemenjadian, yakni peristiwa terangkatnya puing-puing sejarah kemanusiaan. Dirinya sudah berperang melawan keraguan sebelum menandaskan guratan. Ada tak lekang disampaikan usia, manakala tersapa angin abadi lantas berserah meneruskan kembara.
Lebih tegasnya Mozart menerima ketentuan takdir telah ada, musiknya fitroh insani. Di hadapannya anak-anak manusia ialah seniman ketika mengikuti perasaan terdalam, indra menuntun saling menyapa kesadaran bertukar akal budhi, semisal kelepakan sayap-sayap malaikat menyadarkan dunia lain yang menggerakkan perikehidupan.
Manusia tekun menyungguhi kodrati bersinahu keadaan nasibnya, dengan begitu peroleh kegembiraan fitri kesenangan tercurah dari angan alam sekitarnya. Belajar menikmati yang disuguhkan dikabarkan untuk sesamanya dalam bangunan tak kalah mengagumkan. Sebab bunyi-bunyian musik mengangkat wewarna bebentuk yang ada, seperti bermain di bawah bayangan awan, jiwanya teresap kekudusan hayati melena melembutkan penghayatan.
Kini bahasan jiwa penyair musik Beethoven. Di depannya takdir hanyalah jalan lengang harus diisi kesungguhan, atas perjuangannya manusia hadir bersanggup mengagumkan tak kalah keindahan alam. Meski belajar darinya lebih maju lewat mengolah, di sini fungsi kemanusiaan tepat guna. Insan berani tak tunduk adanya takdir, berjuangan keras mengangkat yang menegangkan akal.
Anak manusia harus menjadi pahlawan kalau ingin dikenang, inilah kesungguhan Beethoven melaksanakan cita mengidupkan alam lebih dari harum bunga-bunga. Kesemangatan jiwa tergetar menggema alam bathin tragik contoh perjuangan, maka hadir gugusan kegemilangan nalar sedari jarak perasaan yang kadang diharuskan meninggalkan.
Bagi Beethoven, naluri sekadar pemantik tak bernafas lebih; sejarah panjang pergolakan perang tumpahan darah, memaksa berwaspada lonjakan besar, loncatan tak terjangkau nalar ketika tengah terjadi. Penjelmaan itu berasal hasrat mengumpulkan kilauan cahaya hayati menjelma kobaran kala dilaksanakan.
Dan musik jadi lukisan jiwa insan paling gelisah, kegilaan hadir sebab tulinya pemahaman alam sekitar yang kadang dianggap puncak kesintingan. Di sini seniman lebih unggul, perasaannya sebatu asah di sebilah keris pemikiran, yang diberlakukan jiwa pertanahan sekaligus menyerang.
Dalam pengembaraan jiwa Beethoven mendapati kerinduan angkuh, ini tak lepas dari keringat ikhtiarnya menghabiskan masa muda berkesuntukan, laksana tak menghargai seorang kalau tidak memberi tempat sah. Pencapaiannya kegemilangan dunia, mencakar nalar bentangan awan menarik mendung hingga hujan mau tak mau datang menderas.
Dirinya insaf bahwa kehidupan sungguhlah keras, tak bisa berdiri tegak kalau tidak benar sungguh. Musiknya mengangkat derajat lebih agung dari melodi pastoral, dialah penggagas sekaligus meremukkannya, ketika pertimbangan lanjut tiada berkenan.
Kesadaran darah perjuangan dari nilai-nilai mematenkan dirinya benar-benar hadir. Dan kita peroleh jiwa-jiwa keduanya di genggaman pena penyair Goethe pada Faust-nya yang seakan biji zaitun tidak tertanam di timur maupun barat.
http://pustakapujangga.com/
Pada Mozart, katanya hati mencurah dalam angan-angan yang halus, sedangkan pada Beethoven, angan-angan bercepatan dengan beraninya ke yang tak berakhir: itulah kepenuhan rasa yang berhadapan dengan keyakinan daripada tenaga (J. Van Ackere).
Kita dapat pergunakan keduanya, tergantung kejiwaan saat-saat membuahkan karya, bisa berpandangan Mozart ketika jiwa dalam keadaan tersedot peristiwa, terhisap daya pesona semisal kegemilangan iman.
Memasuki angan halus berharap sangkaan lembut menjelma formula penentu gerak laju melembutkan perasaan terdalam. Di kedalamannya ranting kering dihanyutkan arus besar, kerendahan hati menyimak situasi makna terhadapi, apakah daya hidup melembut dalam kemanunggulangan alam ataupun pencipta.
Semacam keterheranan tak mematikan, ketakjuban menarik kalbu mengikuti penanda, apakah angin atau teguran tak disengaja menggelinjak seirama yang tengah terbangun. Dan setiap langkah seakan bocah terbuai suasana, larut ke semenanjung kemungkinan selepas lantas tertandakan angan pertimbangan nalar sebelumnya.
Mozart bukan pendorong tapi sosok perayu memangfaatkan situasi mereproduksi kesaksian, tergetarlah jiwanya menggetarkan sesama. Seperti awan menyapu ubun-ubun pegunungan ke lereng lembah kemajuan renungan, pula dinaikkan angin firasat menjelma kabut dataran tinggi menyadarkan puncak-puncak lain setelah mengikuti yang terejawantah kepasrahan.
Mozart tidak memompa jiwanya namun pergunakan momen sekecil-kecilnya mengisari diri, tak sadar terangkat membumbung bersamanya terbang. Inilah kesaksian penerima takdir menghadirkan yang seolah tak terbayang tapi sudah ada gambaran. Alam bawah sadar menguntit keasyikan sambil terus membaca situasi agar tak buyar bangunan logika, sebelum beredarnya kemungkianan jauh memukau.
Di jalan Mozart tiada kerikil tajam kecuali menandaskan nikmat mengunyah kesendirian dalam gua pertapaan bathiniah, melangsungkan perkawinan malam-malam, tak habis-habisnya gurih tiada jemu menenggak manisnya indrawi; fitroh jiwa senantiasa perawan kecuali perasaan insan bebal panggilan.
Kegembiraan jauh kebendaan yang tercukupi limpahan pengabdian berkarya, selalu merasakan puncak menggetarkan kesaksian. Penglihatan kalbunya menyingkap hijab direguk tiada banding, angan-angan menjelma bangunan musik kemenjadian, yakni peristiwa terangkatnya puing-puing sejarah kemanusiaan. Dirinya sudah berperang melawan keraguan sebelum menandaskan guratan. Ada tak lekang disampaikan usia, manakala tersapa angin abadi lantas berserah meneruskan kembara.
Lebih tegasnya Mozart menerima ketentuan takdir telah ada, musiknya fitroh insani. Di hadapannya anak-anak manusia ialah seniman ketika mengikuti perasaan terdalam, indra menuntun saling menyapa kesadaran bertukar akal budhi, semisal kelepakan sayap-sayap malaikat menyadarkan dunia lain yang menggerakkan perikehidupan.
Manusia tekun menyungguhi kodrati bersinahu keadaan nasibnya, dengan begitu peroleh kegembiraan fitri kesenangan tercurah dari angan alam sekitarnya. Belajar menikmati yang disuguhkan dikabarkan untuk sesamanya dalam bangunan tak kalah mengagumkan. Sebab bunyi-bunyian musik mengangkat wewarna bebentuk yang ada, seperti bermain di bawah bayangan awan, jiwanya teresap kekudusan hayati melena melembutkan penghayatan.
Kini bahasan jiwa penyair musik Beethoven. Di depannya takdir hanyalah jalan lengang harus diisi kesungguhan, atas perjuangannya manusia hadir bersanggup mengagumkan tak kalah keindahan alam. Meski belajar darinya lebih maju lewat mengolah, di sini fungsi kemanusiaan tepat guna. Insan berani tak tunduk adanya takdir, berjuangan keras mengangkat yang menegangkan akal.
Anak manusia harus menjadi pahlawan kalau ingin dikenang, inilah kesungguhan Beethoven melaksanakan cita mengidupkan alam lebih dari harum bunga-bunga. Kesemangatan jiwa tergetar menggema alam bathin tragik contoh perjuangan, maka hadir gugusan kegemilangan nalar sedari jarak perasaan yang kadang diharuskan meninggalkan.
Bagi Beethoven, naluri sekadar pemantik tak bernafas lebih; sejarah panjang pergolakan perang tumpahan darah, memaksa berwaspada lonjakan besar, loncatan tak terjangkau nalar ketika tengah terjadi. Penjelmaan itu berasal hasrat mengumpulkan kilauan cahaya hayati menjelma kobaran kala dilaksanakan.
Dan musik jadi lukisan jiwa insan paling gelisah, kegilaan hadir sebab tulinya pemahaman alam sekitar yang kadang dianggap puncak kesintingan. Di sini seniman lebih unggul, perasaannya sebatu asah di sebilah keris pemikiran, yang diberlakukan jiwa pertanahan sekaligus menyerang.
Dalam pengembaraan jiwa Beethoven mendapati kerinduan angkuh, ini tak lepas dari keringat ikhtiarnya menghabiskan masa muda berkesuntukan, laksana tak menghargai seorang kalau tidak memberi tempat sah. Pencapaiannya kegemilangan dunia, mencakar nalar bentangan awan menarik mendung hingga hujan mau tak mau datang menderas.
Dirinya insaf bahwa kehidupan sungguhlah keras, tak bisa berdiri tegak kalau tidak benar sungguh. Musiknya mengangkat derajat lebih agung dari melodi pastoral, dialah penggagas sekaligus meremukkannya, ketika pertimbangan lanjut tiada berkenan.
Kesadaran darah perjuangan dari nilai-nilai mematenkan dirinya benar-benar hadir. Dan kita peroleh jiwa-jiwa keduanya di genggaman pena penyair Goethe pada Faust-nya yang seakan biji zaitun tidak tertanam di timur maupun barat.
Langganan:
Postingan (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya