Bertemu Amy Lowell, John Keats hingga Andy Warhol
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=395
Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov, nama panggilan lain Nikolay, Nicolai dan Rimsky-Korsakoff (18 Maret 1844 - 21 Juni 1908) komponis Rusia, salah seorang dari lima komponis “The Five” atau yang dikenal “The Mighty Handful” juga guru musik dalam bidang teknik musik barat harmoni serta orkestra. Ternama dalam minat cerita rakyat pula dongengan; berdasarkan keahlian menggubah orkestranya, yang dikatakan banyak dipengaruhi minatnya. {http://id.wikipedia.org/wiki/Nikolai_Rimsky-Korsakov}
Rimsky-Korsakov, seorang koloris terbesar dalam musik, tukang sulap pada orkes. Ia kenal pathos atau lirisme. Ia tak mengenal jiwa, yang dikenalnya hanya pancaindra. Dengan musik bisa perdengarkan segalanya, memperlihatkan semuanya. Dapat membikin suatu tema tidak berarti menjadi orkestrasi yang sangat menarik. Seniman dari Rusia Utara ini memimpikan kemolekan Timur, keindahan cahaya mentari dan warna selatan. Ia rindu pada negara-negara sebelah Selatan yang secuil dan penuh keindahan itu. “Antar” lebih banyak Arab dari pada Rusia. Daerahnya dongengan. Tak lain yang disukainya menggambarkan suatu iring-iringan manusia, dengan suara orkes yang bagus-bagus: iringan raja dari “Puteri salju”, suatu pawai dari “Ayam jantan emas.” {pendapat J. Van Ackere, di buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***
Yuja Wang, pianis yang kukenal lewat facebook, tatkala mencari musiknya Ravel.
Perempuan yang sejak kecil bermain piano, telah memainkan ciptaan Mozart sedari belia.
Atas denting jemarinya dipenuhi makna, diriku belajar memahami musik klasik lebih sumringah.
Jauh mendekati sejarah. Di mana para komponis peroleh inspirasi dari belahan dunia sastra.
Lirisme musik Nikolay, selaksa gelas-gelas kristal saling beradu di kemeriahan pesta.
Atau deburan ombak berhantaman di udara, atas laut membiru bersimpan gelora rindu.
Kangen ganjil setingkatan cahaya, tanpa hasrat kemerah.
Seputih kekhusyukan sayap-sayap malaikat membentuk pelangi, oleh tekanan hawa mempurna.
Orkestrasinya halus menusuk, bening berkilau-kemilau dari anugerah pancaindara yang tajam.
Menggubah irama warna memikat pandang, mendentingi telinga, menyusul kerinduannya.
Selalu menemukan instrumen ke belahan lain, melodian akrobatik, bau-bau harum menyebar dari jari-jemari penyair.
Nada-nada percepatan letak renungan, umpama hujaman belati tidak henti menyayat-mengiris.
Sampai pedihnya secabikan kekal, bathin larut ke dalam khasana bermusik.
Yuja Wang tak hendak hembuskan nafas, kecuali menjejaki pohon-pohon ingatan tertinggi.
Mengolah keluar-masuknya peroleh limpahan cahaya, detik-detik tarikan mengikuti skat telah ditentukan berabadi.
Percepatan gesekan sinar menyeruak wewarna, tak istirah pesonakan mata pun telinga.
Padanya jiwa perasa mengakui keuletan menebarkan bunga, kelopak-kelopak lepas mendenting akhir memberkah.
Kusimak kepiawaian Yuja Wang menghantarkan Bumble Bee (Rimsky-Korsakov / Cziffra) lewat You Tube;
selaksa memperhatikan puisi penyair Amerika, Amy Lowell (1874-1925) bertitel AWAN MALAM:
Kuda-kuda betina dari bulan memburu sepanjang angkasa
Memukul dengan tapak-tapak emas pada langit-langit kaca;
Kuda-kuda betina dari bulan semua tegak pada kaki belakangnya
Memukul gerbang porselin hijau dari langit-langit jauh.
Melayanglah, para kuda!
Kerahkan seluruh tenaga!
Deraikan debu bintang membima,
Kalau tidak, mentari -harimau sergap dan binasa kamu
Dengan sekali jilat lidahnya merah.
{dari buku Puisi Dunia, jilid II, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1953}
Pun yang dilantunkan awal kali penyair Inggris, John Keats (1795-1821):
“Jendela magis yang melihat ke buih
Lautan bersahaya di negeri dongengan sepi”
Rimsky-Korsakov, tepatnya seorang penyair pelukis musik; hasil ciptaan iramanya menelusuri dongeng purba penuh nuanse warna.
Alam pandangan mata diberikan karunia berlimpah, menyadap waktu silam bagi mekaran bunga-bunga kesaksian di setiap jaman.
Atas kejelian teliti, mampu menahan nafas-nafas penyimak, dirinya menebali tapak-tapak berkarya.
Tak ada keterlenaan, semua diatur mengarungi kepak keseriusan suci, cahaya menyeruak mekarkan kembang kemakmuran indrawi.
Kegemilangan wewarna musik Nikolay melampaui seniman lukis, jaman di depannya; pencapaiannya melebihi Andy Warhol (1928-1987).
Inilah gugusan sabda bunyi-bunyian terang memikat, mengangkat perasaan berfikir, melakoni kemenjadian, mengalir, meliuk.
Seakan kerlingan mata penggoda menjatuhkan peramal, suatu ciptaan takdir tak dapat diulang.
Menajamkan kedudukan keniscayaan ada, pada kelahiran serta kematian tepat di jantung Masa.
Tampilkan postingan dengan label Yuja Wang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yuja Wang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 April 2010
Selasa, 09 Maret 2010
Membaca Ravel (1875-1937) Melalui Yuja Wang
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=295
Joseph Maurice Ravel (7 Maret 1875 - 28 Desember 1937), komponis Perancis atas musik impresionis, yang dikenal terutama melodi, orkestra, instrumental tekstur dan efek. Sebagian besar musik piano, musik kamar, musik vokal dan musik orkestra, telah memasuki repertoar standar konser.
Menurut J. Van Ackere; orang jangan menggambarkan Ravel seperti Beethoven dengan rambut yang kacau, dengan buku catatan musiknya melarikan diri ke alam sepi, atau serupa Schumann, yang merenung di tepi sungai Rhein, dengan pandangan menghilang di kejauhan. Tidak. Coba turut ke rumah musim panas di Montfort I’Amaury dalam studio yang menyedapkan mata. Di sini duduk Ravel di belakang mejanya, sedang mempelajari hasil kombinasi orkestranya dengan ketelitian seorang ahli dalam laboratorium yang hendak menentukan reaksi kimia dalam pipa eksperimennya. Dengan timbre semata-mata ia menyulap segala yang dikehendaki; hutan di mana Duimpje meloncat-loncat, harumnya taman-taman Spanyol cahaya pagi dari padang-padang rumput Yunani. Ia menghitung, memikir dan menimbang. Tak satu not lebih; istirahat yang sedikit pun, tanda sekecil pun mempunyai arti hidup. Terhadap Ravel harus memeriksa perbendaharaan kata-kata kita. Ia tak suka keributan, adjektif-adjektif, tanda-tanda seru dan orang-orang penyerang. Ia curiga pada semangat-semangatan dan perasaan. Tapi tentu Ravel seorang perasa {dari buku Musik Abadi, diterjemahkan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap}
Atas karya Ravel, bertitel “La Valse” yang diadaptasi piano oleh Yuja Wang, serta secarik catatan J. Van Ackere;
tampaklah lirisme Ravel berada dalam penguasaan serba nalar, betapa melayang-layang tetap dalam batas-batas logika.
Yakni kematangan seorang realis, yang tak terhanyut warna luar, meski berjalan di antara taman bunga dan kemegahan kota.
Sebab khusyuknya menjelajahi alam diri, selepas memahami jarak sosial, oleh perimbangan teliti.
Sejenis kesederhanaan orang-orang kota, yang menciptakan keanggunan tersendiri, kala kuasa kebutuhan telah teratasi.
Hasrat Ravel bukan urakan, yang melancong jauh tanpa bekal, tapi melayarkan segenap faham pada permainan sudah diketahui.
Dari kamar pribadi, memantulkan mawas diri di setiap musiknya menyeruak.
Mekar bunga batu-batu pualam, atau kristal bening di meja, saat perjamuan mewah renungan.
Atau sekelas menengah benih-benih pemikiran filsuf Leo Tolstoy, atas pancaran hidup di ruang pedalaman;
laju waktu berjalan teratur, sehingga penelitian mengenai jiwa umat, juga pemikiran kota, dapat diperiksa seksama.
Masa bergelayut normatif, menciptakan konsep-konsep keharmonisan, oleh ketegangan pribadi, dilingkupi pergerakan kalbu, mencari kaidah mapan serta stabil.
Perimbangan musiknya menghidupkan makna-makna dari dentingan kehidupan.
Ravel dalam rahim impresionis, mampu membentuk efek-efek menjelma sentuhan hidup, semuanya dalam batas dimengerti.
Kerapian musiknya bukan berasal benturan pergolakan, pula tidak menghanyutkan jiwa terseret ke laut lamunan, yang melenyapkan pebekalan. Tidak.
Tetapi ketetapannya mengolah pribadi, mematangkan serat menujah akar-akar ke bumi kesadaran.
Sampai angin topan tak bergeming, tak merobohkan yang sudah dibangunnya, dari watak kesederhanaan pelajar.
Ku kira Yuja Wang layak mendapat tempat memainkan musiknya, yang tidak jauh dari sentuhan dalam berolah rasa, pada pergumulan logika Ravel.
Sulap yang dilakukan Ravel begitu bening berlimpah, bulir-bulir terang gemintang ditebarkan jubah malam.
Sampai tatapan kita tak henti memandang permainannya, kecantikan musik dari pilihan formula hidup tepat guna.
Menyirap panggung dalam dentingan tak henti-henti kadang larut ke jiwa, pula menyusuri kesadaran indra.
Ada sentakan kecerdasan logika, hitungan sistematis, yang menjuntai untaian rambut, pada pesona musiknya.
Deburan ombak samudra tak henti melakoni, ke karang-karang terjal, menghempas menuju pasir perasaan.
Mendekam laksana keheningan batu rembulan, dalam sisi-sisi jiwa insan.
Musik Ravel menggoda logika, lantas baru menyusuri perasaan, ini pun dalam batas lemparan jala nalar.
Ialah bukan perayu yang menumpahkan segenap lara, kerinduan jiwa demi tercinta, tapi mencipta misteri-misteri, agar terkasih maraba-raba yang diinginkan.
Umpama geliat tatanan dunia modern, membetot penalaran kritis yang cermat.
Perhitungan dalam peperangan, dengan alat-alat canggih, dari beberapa pengorbanan masa lampau;
musiknya ringkasan melodian hayat, yang memukau dan gemilang.
Oleh tekunnya penelitian, membuahkan kecerdasan, yang sengaja atau tidak, menumbuhkan kecemburuan.
Dalam diri para penyaksi, ditarik-tarik keingintahuan, dari apa Ravel mengolah otak encernya.
Bisikan-bisikan itu, tak sempat terucap, jadilah misteri dalam decakan kagum, yang memberinya nafas-nafas.
Yuja memainkan ulang musik Ravel pun, masih menjaga kesadaran, tidak sampai ke puncak ketaksadaran.
Kegilaan tetap diperhitungkan mawas dalam cermin, suatu gugusan faham hafalan, yang memainkan peran penting, mengatur perimbangan nafas panjang.
Sehingga mencapai akhir dalam keadaan stabil, seperti percintaan penuh curiga, kenikmatan sebatas antara.
Namun demikian, lelaku melodi dan irama ketegangan, terus menghantui telinga ingatan, denting terngiang, sesirat rumusan diterima manusia, dalam terdapat kebenaran.
Ravel tak bisa berbuat tragis. Ia tak mengenal drama. Daerah lainlah yang menarik baginya, yang bersifat dongengan, penuh pesona (J. Van Ackere).
Lantunannya dipenuhi keceriaan, alam para peri, sosok wanita-wanita jelita, dalam bayangan kecemerlangan.
Kaki-kaki lincah, menuruni ondak-ondakan kayu ke sendang, melamun di pinggiran prigi, yang sesekali disentakkan butiran air.
Jatuh dari dedaun mimpi menjelma harapan, membentang musiknya ke padang mencapai angan logika pembenaran, dengan keindahan.
http://pustakapujangga.com/?p=295
Joseph Maurice Ravel (7 Maret 1875 - 28 Desember 1937), komponis Perancis atas musik impresionis, yang dikenal terutama melodi, orkestra, instrumental tekstur dan efek. Sebagian besar musik piano, musik kamar, musik vokal dan musik orkestra, telah memasuki repertoar standar konser.
Menurut J. Van Ackere; orang jangan menggambarkan Ravel seperti Beethoven dengan rambut yang kacau, dengan buku catatan musiknya melarikan diri ke alam sepi, atau serupa Schumann, yang merenung di tepi sungai Rhein, dengan pandangan menghilang di kejauhan. Tidak. Coba turut ke rumah musim panas di Montfort I’Amaury dalam studio yang menyedapkan mata. Di sini duduk Ravel di belakang mejanya, sedang mempelajari hasil kombinasi orkestranya dengan ketelitian seorang ahli dalam laboratorium yang hendak menentukan reaksi kimia dalam pipa eksperimennya. Dengan timbre semata-mata ia menyulap segala yang dikehendaki; hutan di mana Duimpje meloncat-loncat, harumnya taman-taman Spanyol cahaya pagi dari padang-padang rumput Yunani. Ia menghitung, memikir dan menimbang. Tak satu not lebih; istirahat yang sedikit pun, tanda sekecil pun mempunyai arti hidup. Terhadap Ravel harus memeriksa perbendaharaan kata-kata kita. Ia tak suka keributan, adjektif-adjektif, tanda-tanda seru dan orang-orang penyerang. Ia curiga pada semangat-semangatan dan perasaan. Tapi tentu Ravel seorang perasa {dari buku Musik Abadi, diterjemahkan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap}
Atas karya Ravel, bertitel “La Valse” yang diadaptasi piano oleh Yuja Wang, serta secarik catatan J. Van Ackere;
tampaklah lirisme Ravel berada dalam penguasaan serba nalar, betapa melayang-layang tetap dalam batas-batas logika.
Yakni kematangan seorang realis, yang tak terhanyut warna luar, meski berjalan di antara taman bunga dan kemegahan kota.
Sebab khusyuknya menjelajahi alam diri, selepas memahami jarak sosial, oleh perimbangan teliti.
Sejenis kesederhanaan orang-orang kota, yang menciptakan keanggunan tersendiri, kala kuasa kebutuhan telah teratasi.
Hasrat Ravel bukan urakan, yang melancong jauh tanpa bekal, tapi melayarkan segenap faham pada permainan sudah diketahui.
Dari kamar pribadi, memantulkan mawas diri di setiap musiknya menyeruak.
Mekar bunga batu-batu pualam, atau kristal bening di meja, saat perjamuan mewah renungan.
Atau sekelas menengah benih-benih pemikiran filsuf Leo Tolstoy, atas pancaran hidup di ruang pedalaman;
laju waktu berjalan teratur, sehingga penelitian mengenai jiwa umat, juga pemikiran kota, dapat diperiksa seksama.
Masa bergelayut normatif, menciptakan konsep-konsep keharmonisan, oleh ketegangan pribadi, dilingkupi pergerakan kalbu, mencari kaidah mapan serta stabil.
Perimbangan musiknya menghidupkan makna-makna dari dentingan kehidupan.
Ravel dalam rahim impresionis, mampu membentuk efek-efek menjelma sentuhan hidup, semuanya dalam batas dimengerti.
Kerapian musiknya bukan berasal benturan pergolakan, pula tidak menghanyutkan jiwa terseret ke laut lamunan, yang melenyapkan pebekalan. Tidak.
Tetapi ketetapannya mengolah pribadi, mematangkan serat menujah akar-akar ke bumi kesadaran.
Sampai angin topan tak bergeming, tak merobohkan yang sudah dibangunnya, dari watak kesederhanaan pelajar.
Ku kira Yuja Wang layak mendapat tempat memainkan musiknya, yang tidak jauh dari sentuhan dalam berolah rasa, pada pergumulan logika Ravel.
Sulap yang dilakukan Ravel begitu bening berlimpah, bulir-bulir terang gemintang ditebarkan jubah malam.
Sampai tatapan kita tak henti memandang permainannya, kecantikan musik dari pilihan formula hidup tepat guna.
Menyirap panggung dalam dentingan tak henti-henti kadang larut ke jiwa, pula menyusuri kesadaran indra.
Ada sentakan kecerdasan logika, hitungan sistematis, yang menjuntai untaian rambut, pada pesona musiknya.
Deburan ombak samudra tak henti melakoni, ke karang-karang terjal, menghempas menuju pasir perasaan.
Mendekam laksana keheningan batu rembulan, dalam sisi-sisi jiwa insan.
Musik Ravel menggoda logika, lantas baru menyusuri perasaan, ini pun dalam batas lemparan jala nalar.
Ialah bukan perayu yang menumpahkan segenap lara, kerinduan jiwa demi tercinta, tapi mencipta misteri-misteri, agar terkasih maraba-raba yang diinginkan.
Umpama geliat tatanan dunia modern, membetot penalaran kritis yang cermat.
Perhitungan dalam peperangan, dengan alat-alat canggih, dari beberapa pengorbanan masa lampau;
musiknya ringkasan melodian hayat, yang memukau dan gemilang.
Oleh tekunnya penelitian, membuahkan kecerdasan, yang sengaja atau tidak, menumbuhkan kecemburuan.
Dalam diri para penyaksi, ditarik-tarik keingintahuan, dari apa Ravel mengolah otak encernya.
Bisikan-bisikan itu, tak sempat terucap, jadilah misteri dalam decakan kagum, yang memberinya nafas-nafas.
Yuja memainkan ulang musik Ravel pun, masih menjaga kesadaran, tidak sampai ke puncak ketaksadaran.
Kegilaan tetap diperhitungkan mawas dalam cermin, suatu gugusan faham hafalan, yang memainkan peran penting, mengatur perimbangan nafas panjang.
Sehingga mencapai akhir dalam keadaan stabil, seperti percintaan penuh curiga, kenikmatan sebatas antara.
Namun demikian, lelaku melodi dan irama ketegangan, terus menghantui telinga ingatan, denting terngiang, sesirat rumusan diterima manusia, dalam terdapat kebenaran.
Ravel tak bisa berbuat tragis. Ia tak mengenal drama. Daerah lainlah yang menarik baginya, yang bersifat dongengan, penuh pesona (J. Van Ackere).
Lantunannya dipenuhi keceriaan, alam para peri, sosok wanita-wanita jelita, dalam bayangan kecemerlangan.
Kaki-kaki lincah, menuruni ondak-ondakan kayu ke sendang, melamun di pinggiran prigi, yang sesekali disentakkan butiran air.
Jatuh dari dedaun mimpi menjelma harapan, membentang musiknya ke padang mencapai angan logika pembenaran, dengan keindahan.
Mendengar Mozart berjumpa Thales bersama Yuja Wang
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
Seorang kelana kecapean, biasanya kalau tiba di puncak suatu bukit berhenti sebentar, lalu memandang ke lembah di bawahnya. Ia melihat keseluruhan pemandangan indah pelbagai macam, hanya sambil dilakukan di perjalanan. Ini suatu gambaran simbolis arti Mozart dalam musik. Ialah lembah indah itu. Berada di pinggiran sejarah dan evolusi musik, tak punyai maksud seperti Wagner. Tidak mencari bentuk baru, tetapi yang ada dibawanya ke puncak kepurnaan. Kalau kita hanya punya Mozart, musik akan banyak segi-seginya seperti sekarang. Semua kita jumpai padanya mempunyai hampir sama, kecuali barangkali minatnya untuk alam. Seluruh memuas pada Mozart: ruh, hati, perasaan, kenangan. Keajaiban lain bisa menuang semua ini dalam bentuk sempurna, yang selalu menampung isi. Ketawa meriang, airmata paling menyedihkan pandangan, yang penuh duka dan kegembiraan memuncak, semua itu dituangkan juga dalam bentuk soneta yang sulit.
Tak seorang penyair musik mengenal kepahitan, serupa ia tiada yang mencipta musik kegembiraan itu. Hampir selamanya Mozart mengakhiri dengan nada riang kalbu. Ia lekas melupa……Sedang dalam hidupnya masa-masa riang kurang, namun saat-saat dukalah hampir tak ada dalam musiknya. Dengan Mozart kita berhadapan masalah pelik: perpisahan antara manusia biasa dan seniman penciptanya. Itu soal memusingkan yang tak bisa didalami. Andaikata bisa dipecahkan, mungkin kita mengerti keanehan Mozart, dan bisa tahu rahasia seninya {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***
Wolfgang Amadeus Mozart (27 Jan 1756 - 5 Des 1791), seorang komposer produktif berpengaruh dari zaman Klasik.
Telah mencipta lebih dari 600 karya, banyak diakui sebagai puncak simfoni, concertante, kamar, piano, opera serta musik paduan suara. Ialah paling populer enduringly komposer klasik.
Di sini, aku menarik watak musiknya segarisan pantul hayatnya, dengan diiringi petikan piano oleh Yuja Wang kala belia atas karya Mozart.
Sungguh bertolak gambaran nasibnya yang sempat sebagai pemusik istana di Salzburg. Tersebab gelisah, berkelana mencari posisi terbaik jiwanya, dengan tekun menulis hingga berlimpah.
Mengunjungi Wina tahun 1781, di mana mencapai puncak ketenaran, namun sedikit uang yang didapat.
Meninggalkan istrinya Constanze, pula kedua anak laki-lakinya. Mozart terpaksa kurbankan semua, mungkin demi mendapati ketenangan bermusik dalam jiwanya.
Waktu berolah rasa kepahitan, musiknya seolah pelepas penat bathiniah, yang bertambah meradang ke relung-relung sukma.
Hatinya dilayarkan angan untuk mengimbangi tempaan pedih kembara, bergelayut menemui keriangan.
Seakan tuhan meniupkan ruh halus ke ubun-ubun yang didera kemalangan, sedari ketulusan berjiwa mantang.
Tiada ganjalan meski sejumput umpat dalam musiknya, melodian berlarian selincah kaki-kaki kanak diberkahi keriangan dunianya.
Mozart girang belajar pada semua, mengembangkan bakatnya lewat berbagai gaya, hingga peroleh keanggunan ruh pesona.
Seperti bebuah anggur matang pencarian cahaya matahari, dari kemelaratan di gang-gang kota; tekadnya berkehendak berbagi senyuman.
Beethoven pun menulis sendiri komposisi awal dalam bayangan Mozart, ialah seniman sejati yang sanggup merindingkan bebulu, bagi mendalami karakternya.
Yang dibangunnya keniscayaan hidup, tempaan ruang-waktu, debu-debu di sudut kota Wina; melewati sungai diperoleh bayangan dirinya, tersenyum mekarkan jiwa-jiwa.
Pancaindranya cerlang gemilang memancarkan cemerlang, segemintang terang di langit malam.
Dengan secarik kertas meyakinkan pribadinya dipenuhi nikmat ketaatan nasib yang diemban, berbuah senandung merdu mengisi tiap jaman. Mozart tersenyum dalam diam.
Cobaan hidup letih perut, mata berkunang, sakit demam berat kepala, pun serba kurang lainnya.
Dihayatinya sampai kelezatan ganjil; hanya orang tertentu mampu imbangi kekurangan, dengan tidak berhenti dalam kepasraan.
Ditekannya semua demi keindahan musik yang diperjuangkan berabadi, ke dasar kehakikian.
Mencari yang dikehendaki waktu terbesar takdirnya; betapa manis ruang kepahitan itu.
Jiwa Mozart terkepal padat sebatu-batu sungai, bening air menampakkan keelokan. Kesabaran menuntun ke segenap pandang ilalang persoalan.
Menjelma senandung kesantunan sahaja, dari ketabahan diolah berulang demi purnanya jiwa temukan watak paripurna.
Keselarasan riwayat digembolnya di jalanan mengarungi masa-masa, makin genap terus berulang.
Dibalik tekunnya latihan; bermusik, berpuisi, ialah hasil mempurnakan soal kehidupan.
Sang seniman pertaruhkan segenap jiwa-raga persembahkan kemajuan, tapak-tapak dilalui sewujud bakti hayati.
Meraih yang diwedarkan bau kembang, warna dedaun di gelap malam, terang siang, angin membius pandangan.
Keterlenaan, terburu, membuncah dalam gejolak kawah memerah di tubuh kadikjayaan;
titian penyebrangan menunjukkan keberhasilan belajar, pula menyinauhi lewat bersuntuk perihal alam diri.
Dan Yuja Wang telah sejak kecil digembleng kesabaran, pribadi mungilnya belum penuh menyadari pesan ajaib yang disenandungkan Mozart.
Musik dilantunkannya memberi banyak pengajaran tanpa menggurui, demikian keberhasilannya karya seniman sejati.
Memberi petuah tak harus menyenggol penalaran pribadi, tetapi melantak fikir berharmoni membius.
Yang terjadi, kenangan timbul sendiri, hanyut ke dasar lamunan waktu membentangi maknawi.
Hati tak mau beranjak pergi, sebab tengah diruapi gelombang laut kesadaran buih nikmat tiada terbilang.
Juga tidak terlena, sebab dataran pedalaman menyambut dengan wajah sumringah; diolah leladangnya bagi kemakmuran bersama.
Demikian seperti gambaran gagasan filsuf Thales (624-545 SM), akan keindahan penyebaran demi kemeriahan cahaya kemanusiaan.
Dari keterbatasan, Mozart memiliki kelapangan jiwa, kesahajaannya tercermin pada keluwesan bermusik.
Sonetanya lembut sericikan ombak di kaki-kaki pejalan malam, tubuh perasaan pantai membujur dalam penantian.
Para penyimak diserang kehausan, ruh-ruh merindu tarian, memenuhi bathin insani.
Kegirangan jelita, kesenduan perempuan dan peristiwa rahayu; renungannya bening menuju alam suksa.
Betapa halus tiada tampak rayuan, namun jiwa-jiwa larut dalam kidung kekudusan.
Keajaiban nasib pahit memberkah di setiap lekukan memaknai nyawa.
Debu-debu beterbangan, segemintang disorot cahaya dan pagi suci menaburkan harapan.
Semua terangkat dengan tarikan tubuh dinaya, sebinaran perasaan membumbung ke angkasa.
Diterbangkan angin di padang purnama; naluriah mengejawantah atas nafas-nafas bertembangan sentausa.
Ketika mengawali musik kesedihan, keperihan hati tak membuat mati ruh perasaan.
Ada sentuhan gaib terpantul, meniscayakan daya sesal demi meniti jalan kembali dengan kehati-hatian.
Mengembalikan denting kelahiran, kefitrian melembut pandangan bathin kedewasaan, air mata tumpah menyeruah.
Embun gugur matangkan daun, demi mengenal masa sesungguhnya.
Menghitung nada juwita, tapakan pelahan penuh yakin, atas meresapi tingkatan pedasnya hayat yang kadang tak kenal persaudaraan.
Mozart menuntun kalbunya, memeram perih menjelma garam pengetahuan. Untuk ikhlas mencerna kehalusan bathinnya, bersanding disegenap warna masa depan.
Ialah pelajaran jarak waktu, menekuni hidup bertafakkur dari tiap-tiap tekukan peristiwa.
Dicumbui kerelaan, kepasrahan seniman ulet berkeindahan bagi sesama, atas karunia-Nya.
Keselarasan irama bergandeng perubahan, dari lentikan kasih sayang alam kepada kehidupan.
Pengajaran tiada habis, tidak tandas masa berlarut kepahitan, oleh keteguhan berharap keharmonisan.
Sungguh kepahitan menyenangkan dikemudian, kenangan abadi diceritakan. Ke alam apa pun tetap merdu berkumandang.
Matang mempelajari alam antara, menjelma alunan ke setiap telinga, mencecap kerinduan puja.
Begitulah musik penyair Mozart hidup di antara kita, menghibur kegundahan yang datang tidak tentu arah.
http://pustakapujangga.com/
Seorang kelana kecapean, biasanya kalau tiba di puncak suatu bukit berhenti sebentar, lalu memandang ke lembah di bawahnya. Ia melihat keseluruhan pemandangan indah pelbagai macam, hanya sambil dilakukan di perjalanan. Ini suatu gambaran simbolis arti Mozart dalam musik. Ialah lembah indah itu. Berada di pinggiran sejarah dan evolusi musik, tak punyai maksud seperti Wagner. Tidak mencari bentuk baru, tetapi yang ada dibawanya ke puncak kepurnaan. Kalau kita hanya punya Mozart, musik akan banyak segi-seginya seperti sekarang. Semua kita jumpai padanya mempunyai hampir sama, kecuali barangkali minatnya untuk alam. Seluruh memuas pada Mozart: ruh, hati, perasaan, kenangan. Keajaiban lain bisa menuang semua ini dalam bentuk sempurna, yang selalu menampung isi. Ketawa meriang, airmata paling menyedihkan pandangan, yang penuh duka dan kegembiraan memuncak, semua itu dituangkan juga dalam bentuk soneta yang sulit.
Tak seorang penyair musik mengenal kepahitan, serupa ia tiada yang mencipta musik kegembiraan itu. Hampir selamanya Mozart mengakhiri dengan nada riang kalbu. Ia lekas melupa……Sedang dalam hidupnya masa-masa riang kurang, namun saat-saat dukalah hampir tak ada dalam musiknya. Dengan Mozart kita berhadapan masalah pelik: perpisahan antara manusia biasa dan seniman penciptanya. Itu soal memusingkan yang tak bisa didalami. Andaikata bisa dipecahkan, mungkin kita mengerti keanehan Mozart, dan bisa tahu rahasia seninya {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***
Wolfgang Amadeus Mozart (27 Jan 1756 - 5 Des 1791), seorang komposer produktif berpengaruh dari zaman Klasik.
Telah mencipta lebih dari 600 karya, banyak diakui sebagai puncak simfoni, concertante, kamar, piano, opera serta musik paduan suara. Ialah paling populer enduringly komposer klasik.
Di sini, aku menarik watak musiknya segarisan pantul hayatnya, dengan diiringi petikan piano oleh Yuja Wang kala belia atas karya Mozart.
Sungguh bertolak gambaran nasibnya yang sempat sebagai pemusik istana di Salzburg. Tersebab gelisah, berkelana mencari posisi terbaik jiwanya, dengan tekun menulis hingga berlimpah.
Mengunjungi Wina tahun 1781, di mana mencapai puncak ketenaran, namun sedikit uang yang didapat.
Meninggalkan istrinya Constanze, pula kedua anak laki-lakinya. Mozart terpaksa kurbankan semua, mungkin demi mendapati ketenangan bermusik dalam jiwanya.
Waktu berolah rasa kepahitan, musiknya seolah pelepas penat bathiniah, yang bertambah meradang ke relung-relung sukma.
Hatinya dilayarkan angan untuk mengimbangi tempaan pedih kembara, bergelayut menemui keriangan.
Seakan tuhan meniupkan ruh halus ke ubun-ubun yang didera kemalangan, sedari ketulusan berjiwa mantang.
Tiada ganjalan meski sejumput umpat dalam musiknya, melodian berlarian selincah kaki-kaki kanak diberkahi keriangan dunianya.
Mozart girang belajar pada semua, mengembangkan bakatnya lewat berbagai gaya, hingga peroleh keanggunan ruh pesona.
Seperti bebuah anggur matang pencarian cahaya matahari, dari kemelaratan di gang-gang kota; tekadnya berkehendak berbagi senyuman.
Beethoven pun menulis sendiri komposisi awal dalam bayangan Mozart, ialah seniman sejati yang sanggup merindingkan bebulu, bagi mendalami karakternya.
Yang dibangunnya keniscayaan hidup, tempaan ruang-waktu, debu-debu di sudut kota Wina; melewati sungai diperoleh bayangan dirinya, tersenyum mekarkan jiwa-jiwa.
Pancaindranya cerlang gemilang memancarkan cemerlang, segemintang terang di langit malam.
Dengan secarik kertas meyakinkan pribadinya dipenuhi nikmat ketaatan nasib yang diemban, berbuah senandung merdu mengisi tiap jaman. Mozart tersenyum dalam diam.
Cobaan hidup letih perut, mata berkunang, sakit demam berat kepala, pun serba kurang lainnya.
Dihayatinya sampai kelezatan ganjil; hanya orang tertentu mampu imbangi kekurangan, dengan tidak berhenti dalam kepasraan.
Ditekannya semua demi keindahan musik yang diperjuangkan berabadi, ke dasar kehakikian.
Mencari yang dikehendaki waktu terbesar takdirnya; betapa manis ruang kepahitan itu.
Jiwa Mozart terkepal padat sebatu-batu sungai, bening air menampakkan keelokan. Kesabaran menuntun ke segenap pandang ilalang persoalan.
Menjelma senandung kesantunan sahaja, dari ketabahan diolah berulang demi purnanya jiwa temukan watak paripurna.
Keselarasan riwayat digembolnya di jalanan mengarungi masa-masa, makin genap terus berulang.
Dibalik tekunnya latihan; bermusik, berpuisi, ialah hasil mempurnakan soal kehidupan.
Sang seniman pertaruhkan segenap jiwa-raga persembahkan kemajuan, tapak-tapak dilalui sewujud bakti hayati.
Meraih yang diwedarkan bau kembang, warna dedaun di gelap malam, terang siang, angin membius pandangan.
Keterlenaan, terburu, membuncah dalam gejolak kawah memerah di tubuh kadikjayaan;
titian penyebrangan menunjukkan keberhasilan belajar, pula menyinauhi lewat bersuntuk perihal alam diri.
Dan Yuja Wang telah sejak kecil digembleng kesabaran, pribadi mungilnya belum penuh menyadari pesan ajaib yang disenandungkan Mozart.
Musik dilantunkannya memberi banyak pengajaran tanpa menggurui, demikian keberhasilannya karya seniman sejati.
Memberi petuah tak harus menyenggol penalaran pribadi, tetapi melantak fikir berharmoni membius.
Yang terjadi, kenangan timbul sendiri, hanyut ke dasar lamunan waktu membentangi maknawi.
Hati tak mau beranjak pergi, sebab tengah diruapi gelombang laut kesadaran buih nikmat tiada terbilang.
Juga tidak terlena, sebab dataran pedalaman menyambut dengan wajah sumringah; diolah leladangnya bagi kemakmuran bersama.
Demikian seperti gambaran gagasan filsuf Thales (624-545 SM), akan keindahan penyebaran demi kemeriahan cahaya kemanusiaan.
Dari keterbatasan, Mozart memiliki kelapangan jiwa, kesahajaannya tercermin pada keluwesan bermusik.
Sonetanya lembut sericikan ombak di kaki-kaki pejalan malam, tubuh perasaan pantai membujur dalam penantian.
Para penyimak diserang kehausan, ruh-ruh merindu tarian, memenuhi bathin insani.
Kegirangan jelita, kesenduan perempuan dan peristiwa rahayu; renungannya bening menuju alam suksa.
Betapa halus tiada tampak rayuan, namun jiwa-jiwa larut dalam kidung kekudusan.
Keajaiban nasib pahit memberkah di setiap lekukan memaknai nyawa.
Debu-debu beterbangan, segemintang disorot cahaya dan pagi suci menaburkan harapan.
Semua terangkat dengan tarikan tubuh dinaya, sebinaran perasaan membumbung ke angkasa.
Diterbangkan angin di padang purnama; naluriah mengejawantah atas nafas-nafas bertembangan sentausa.
Ketika mengawali musik kesedihan, keperihan hati tak membuat mati ruh perasaan.
Ada sentuhan gaib terpantul, meniscayakan daya sesal demi meniti jalan kembali dengan kehati-hatian.
Mengembalikan denting kelahiran, kefitrian melembut pandangan bathin kedewasaan, air mata tumpah menyeruah.
Embun gugur matangkan daun, demi mengenal masa sesungguhnya.
Menghitung nada juwita, tapakan pelahan penuh yakin, atas meresapi tingkatan pedasnya hayat yang kadang tak kenal persaudaraan.
Mozart menuntun kalbunya, memeram perih menjelma garam pengetahuan. Untuk ikhlas mencerna kehalusan bathinnya, bersanding disegenap warna masa depan.
Ialah pelajaran jarak waktu, menekuni hidup bertafakkur dari tiap-tiap tekukan peristiwa.
Dicumbui kerelaan, kepasrahan seniman ulet berkeindahan bagi sesama, atas karunia-Nya.
Keselarasan irama bergandeng perubahan, dari lentikan kasih sayang alam kepada kehidupan.
Pengajaran tiada habis, tidak tandas masa berlarut kepahitan, oleh keteguhan berharap keharmonisan.
Sungguh kepahitan menyenangkan dikemudian, kenangan abadi diceritakan. Ke alam apa pun tetap merdu berkumandang.
Matang mempelajari alam antara, menjelma alunan ke setiap telinga, mencecap kerinduan puja.
Begitulah musik penyair Mozart hidup di antara kita, menghibur kegundahan yang datang tidak tentu arah.
Langganan:
Postingan (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya