Tampilkan postingan dengan label Richard Wagner (1813-1883). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Richard Wagner (1813-1883). Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 April 2010

Menyimak Richard Strauss Membaca Nietzsche:

Berjumpa Richard Wagner dan Arthur Schopenhauer

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=398


Richard Strauss, putra dari Franz Strauss. Lahir 11 Juni 1864 di Munich, meninggal 8 September 1949, seorang komposer berkebangsaan Jerman. Masa mudanya berpendidikan musik menyeluruh dari sang ayah. Menulis musik pertama di usia 6 tahun, terus ke hampir kematiannya. Tahun 1874 mendengar opera Wagner; Lohengrin dan Tannhäuser. Pengaruh Wagner sangat mendalam, ayahnya melarang mempelajarinya: tidak sampai umur 16 tahun, telah peroleh skor Tristan und Isolde. Dalam keluarga Strauss, musik Wagner dianggap lebih rendah, tapi Strauss mengatakan dalam tulisan sangat menyesali ini. Pada 1882 masuk Universitas Munich, belajar filsafat dan sejarah seni, bukan musik. Meninggalkan satu tahun kemudian ke Berlin, belajar sebentar sebelum mengamankan posisi sebagai asisten konduktor Hans von Bülow, mengambil alih darinya di Meiningen, ketika Bülow mengundurkan diri 1885. Komposisinya kini berutang gaya Robert Schumann atau Felix Mendelssohn, sesuai ajaran ayahnya. Strauss menikahi Pauline de Ahna 10 September 1894 yang terkenal pemarah, eksentrik juga blak-blakan, tapi pada dasarnya bahagia, dialah sumber inspirasi terbesarnya. Gaya Strauss berubah kala bertemu Alexander Ritter, komposer dan pemain biola, suami dari salah satu keponakan perempuan Wagner. Ritter membujuk meninggalkan gaya konservatif masa mudanya, lalu menulis puisi nada, dikenalkan Strauss pada esai Richard Wagner dan tulisan Arthur Schopenhauer. Kepribadian matang Strauss tampak dalam nada puisi “Don Juan,” lalu menulis serangkaian puisi nada: Kematian dan Transfigurasi (1888-1889), Eulenspiegel’s Merry Pranks (Eulenspiegels lustige Streiche, 1894-1895), Spoke Zarathustra (1896), Don Quixote (1897), Ein Heldenleben (A Hero’s Life, 1897-1898), Domestik Symphony (1902-1903) dan An Alpine Symphony (Eine Alpensinfonie, 1911-1915). {dipetik dari http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Strauss}

Orkes Strauss berkehendak melukiskan sedemikian banyaknya aspek dari kejadian-kejadian sebenarnya ialah kaya, berat dan mengagumkan. Titik berat dalam orkesnya yang berat dalam ciptaan-ciptaan klasik, terdapat pada alat-alat gesek telah dipindahkan ke alat tiup. Pada Strauss ini terpenting, dan alat-alat pukul juga mempunyai makna besar. Padanya orkestrasi mencapai tingkat keunggulan tak tepermanai. Kebesaran musiknya tidak terletak pada alat, tapi pelukisan dan kerjaannya. Syair simfonis Strauss merupakan pesta besar-besaran bagi orkes. Seorang pendekar yang menghabiskan waktu dengan berhawa nafsu; pendekar yang bertarung atas suatu kesadaran lebih kuat; hidup seorang bocah yang sepiduka, serta suatu penghidupan besar seorang seniman; ini apek-aspek terindah dari seni simfoni Richard Strauss. {J. Van Ackere, di buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}

Sambil menyinauhi musik Don Juan-nya Richard Strauss, atas Sekolah Leicestershire Symphony Orchestra yang dilakukan Peter Fletcher.

Dicatat dalam De Montfort Hall, Leicester 1981 melalui You Tube, maka kulayarkan ini tulisan:

Di kedalaman musik Strauss, terdapatlah panggilan jiwa, suara agung unsur-unsur ilmu pengetahuan.

Atas pengalaman hidup diresapinya, menjelma melodi memperkaya pandangan kemanusiaan.

Dengan mempercayai keyakinannya hingga nada-nada ciptaannya bergema kebaktian, teduh-tentram menggetarkan kalbu keimanan.

Laksana dengkur jaman terkumpul pada degupan nurani, menghentak nilai insani oleh dataran perikehidupan.

Terus meningkatkan niat sampai hasrat ketinggian, dileburnya ruang-waktu dalam pesona pastoral bathin.

Kepurnaan pencarian mendekam dalam perenungan panjang, letak muasal kerinduan sejati seruan hati.

Berdaya tarik setutan kenabian. Yang bernaung di bawah pohon kesahajaan.

Tiupan-tiupan halus melampaui pegunungan lembah peradaban.

Menelusupi relung-reling terpencil, hati insan bersama yang diimpi.

Sepaduan nada fitroh berkumandang kefitrian sedari gunung keabadian.

Pada batu-batu kerikil perjalanan, Strauss mengetahui perbedaan waktu.

Debu-debu beterbangan, dirinya memahami tenggang masa.

Menyimak angin mengerti ketebalan nafas-nafas usia semesta.

Yang melingkupi ruh kebesaran mutlah diraih.

Kesantausaan irama perwujudan bathinnya bertuah, demikianlah pancaindra musiknya berkata-kata.

Pencapaian Richard Strauss laksana kedudukan Friedrich Nietzsche (1844-1900) di dunia sastra.

Perpaduan berhasil dari jiwa temuan Richard Wagner (1813-1883) dan Arthur Schopenhauer (1788-1860).

Maka kupetik di sini Sabda Zarathustra dari bagian III:

“Kalian memandang ke atas ketika merindukan pujian; tapi aku justru menunduk ke bawah, sebab telah ditinggikan.
Siapa di antara kalian yang dapat tertawa sekaligus ditinggikan?
Ialah yang memanjat gunung tertinggi, menertawakan semua tragedi juga realitas tragis.”

Di puncak itulah Strauss membangkitkan naluri insani, seumpama tiupan bayu menghidupi padang rerumputan.

Menaburkan putik-putik kembang. Penerbangan dan menghinggapi bayang ketetapan dalam serentakan merentang.

Dipanggulnya beban berat kenangan pada keniscayaan.

Bergesek keraguan menempa, hantu pucat kegetiran nyata membuatnya perih dan dalam bertahan.

Keberangkatan daya sesal, pilu menyadarkan, tangisan sayu menghidupkan kembali nuanse dari kegersangan.

Drama tersayat-sayat lampu panggung, air mata hendak bermukim tidak tertampung, luruh menuju keheningan sanubari.

Musiknya memberkah tersendiri pada pejaman mata, kepada yang tertunduk bersimpuh ke hadapan masa.

Selepas pengelanaan jauh tidak tentu rimbanya, paduan harmoni, kematangan menekuk masalah.

Tubuh di kubangan penjara takdir diterima ketulusan bertabah, di sinilah ketinggian angin serta cahaya.

Menyatukan nasib permai bijaksana, kala hadirkan persembahan demi kehadirat sesama.

Sabtu, 20 Maret 2010

Richard Wagner (1813-1883)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Wilhelm Richard Wagner lahir di Leipzig, Jerman 22 Mei 1813 yang meninggal 13 Februari 1883. Seorang komponis berpengaruh, pakar teori musik serta penulis, paling terkenal karya operanya. Musiknya yang masih sering dimainkan ialah “Ride of the Valkyries” dari Die Walküre juga “Bridal Chorus” dari Lohengrin. Wagner merupakan tokoh kontroversial sebab inovasi musik, dramanya pula pendukung pemikiran anti-semitisme. Dalam sejarah musik, digolongkan komponis Zaman Romantik. Ayahnya pejabat kotamadya rendahan, meninggal enam bulan setelah kelahirannya. Agustus 1814, ibunya menikahi aktor bernama Ludwig Geyer. Geyer didesas-desuskan ayah Wagner sebenarnya, meninggal ketika Wagner berusia enam tahun, selanjutnya dibesarkan ibunya. {dari http://id.wikipedia.org/wiki/Richard_Wagner}

Walaupun Wagner terutama menulis opera-opera, namun dalam musik simfonis ia harus mendapat tempatnya juga. Pengaruhnya terdapat di semua bentuk. Musik romantik itu pokok acara, yang tak dapat kita bicarakan dengan tanpa menyebut Wagner; kalau tidak, hanya menyusun genre daripada menerangkan gaya serta jiwa dalam musik. Tristan adalah tipe dari pahlawan romantik dalam musik, seperti Werther dan René. Tiada nama yang lebih sering muncul dalam programa dari konsert-konsert simfonis kepunyaan Wagner. Sebetulnya orkes berperan utama dalam drama-dramanya. Dengan memasukkan alat-alat baru seperti tuba, ia memberikan bunyi hangat dan dalam. Gaya orkestralnya menandakan kepribadiannya, kita berkata “orkes dari Wagner” seperti kita berkata “orkes dari Bruckner,” “orkes dari Brahms”. Fragmen-fragmen simfonis, yang sungguh-sungguh dalam opera-opera Wagner banyak sekali: kita boleh katakan bahwa ia telah menulis simfoni demi tiap pahlawannya. Jadi Wagner sudah menyempurnakan dua genre: Prelude yang membawa kita pada kesuasanaan dramatis dan uvertur menjadi sintese simfonis dari opera. {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***

Dengan mendengarkan musiknya, lebih mudah mengenal karakter suatu bangsa:
Apakah lembut berselubung semangat Jepang, beringas selaksa Rusia, tangguh sekuat Jerman. Berdaya jernih Prancis, Inggis yang keras atau senandung kebijakan dunia Timur?

Kala kudengar musik Richard Wagner, terbaca sisi kehalusan ganjil yang diteruskan penyair Nietzsche (1844-1900). Ada rayuan jebakan yang mengharuskan penikmat berhati-hati. Jika tak ingin tempat duduknya berpindah tiba-tiba tanpa terasa, di situlah dramanya.

Wagner membangun bunyi-bunyi kepurnaan, sekelebat sayap malaikat membebaskan ruh dari jerat kegelapan.

Sesosok pendekar putih penunggang kuda. Meliar berterbangan berirama puitis. Peristiwa santun pesonakan mata musuh, larut ke dalam takdir kebinasaan.

Kelembutan musik Wagner setajam kilatan pedang di rimba peperangan. Darah muncrat segulung gelombang memecahkan ombak ke bukit-bukit terjal karang.

Hasratnya bergema merangsek kemungkinan pada dinding angkuh masa. Irama purba didengungkan, demi mencapai kehendak perubahan di kandungan alam.

Ialah perasaan tega seolah tanpa sayang; senyuman dingin, lelangkah baja beringas. Firasat kemenangan senantiasa mendukung kesemangatannya menghebat.

Penyair Charles Baudelaire (1821-1867) pernah mengatakan: sentuhan hasil karya musik Wagner sangat menakjubkan, seakan sudah melihat alam surgawi.

Jiwa unggul keberanianlah memancarkan cahaya bening menghadapi soal, tekun menerjemah dentingan hayati. Menjelma alunan tak sekadar nafas. Tapi mampu membangkitkan semangat dari dasar terdalam, sehingga ruh-ruh lembut malaikat tunduk kecerdasannya.

Keunggulan hikmah hembusan nalar me-makluk-kan niat, mewarnai imaji menerbangkan harapan membentang jauh. Dengan sayap masih menyentuh lautan hasrat manusiawi.

Tempaan mental di medan perubahan melintasi awan. Didekapnya perih pertajam belati perasaan. Meruncing pandangan sampai bahasa keyakinan.

Ketika musiknya menuruni lembah kepahitan nasib, ada digembol di pundak kehormatan. Tidak puas perolehan menanjaki bukit-bukit, mendaki pegunungan sejarah berulang yang berbeda-beda.

Sambil mendengarkan musik Wagner “The Ride of the Valkyries” Die Walküre melalui You Tube, aku layarkan tulisan ini.

Menangkap lukisan keberanian di padang perang, menyalakan obor semangat pasukan. Membakar kemah musuh, berlaga bersegenap kemampuan. Mata jeli isyarat seperjuangan, kilatan senjata menebas ketentuan.

Peristiwa itu dinaungi punggung bukit kelam, serupa takdir musik keabadian. Hentakan keras kadang melenakan lawan. Jeritan memecahkan kendang telinga langitan.

Berbondong gemawan menghitam, mendukung hawa percaturan dalam rimba keberingasan memilukan kaum perempuan.

Sang kesatria berbagai strategi pengalaman, membakar amarah menyudutkan nyali musuh. Dan lolong srigala meneriaki lempengan lengan serta kaki-kaki terpenggal.

Darah muncrat membasahi debu, tubuh-tubuh tak bersimpan nyawa, gelimpangan satu-satu. Bau amis bangkitkan birahi kawanan burung terusik tidurnya.

Tiada tampak sesal di raut muka, tetap pertajam senjata berteriak menggusarkan lawan sampai ambang sekarat. Ialah kebencian merebut kehormatan lebih, menggulung dalam kesatuan warna peperangan.

Lantas seluruh arwah kesatria yang gugur, diberkahi keyakinan masing-masing. Membumbung kendarai iman ke tingkatan melampaui kebisingan.

Bau amis menjelma harum kembang. Darah mengalir menciptakan sungai-sungai demi pengelana kehausan, mencari nilai-nilai budhi pengertian.

Yang hidup meneruskan perjuangan dengan kembali menekuni keahlian memaknai hayat. Lalu hembusan kesadaran hadir sepagi-pagi mekarkan bunga-bunga.

Kebencian diganti sayang, dengki dihanguskan kasih. Melarut persaudaraan saling memahami fitroh. Kekasih menyayangi percepat kemajuan, wewarna langit paling bijak dirindukan bangsa-bangsa di muka bumi.

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )