Bertemu Amy Lowell, John Keats hingga Andy Warhol
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=395
Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov, nama panggilan lain Nikolay, Nicolai dan Rimsky-Korsakoff (18 Maret 1844 - 21 Juni 1908) komponis Rusia, salah seorang dari lima komponis “The Five” atau yang dikenal “The Mighty Handful” juga guru musik dalam bidang teknik musik barat harmoni serta orkestra. Ternama dalam minat cerita rakyat pula dongengan; berdasarkan keahlian menggubah orkestranya, yang dikatakan banyak dipengaruhi minatnya. {http://id.wikipedia.org/wiki/Nikolai_Rimsky-Korsakov}
Rimsky-Korsakov, seorang koloris terbesar dalam musik, tukang sulap pada orkes. Ia kenal pathos atau lirisme. Ia tak mengenal jiwa, yang dikenalnya hanya pancaindra. Dengan musik bisa perdengarkan segalanya, memperlihatkan semuanya. Dapat membikin suatu tema tidak berarti menjadi orkestrasi yang sangat menarik. Seniman dari Rusia Utara ini memimpikan kemolekan Timur, keindahan cahaya mentari dan warna selatan. Ia rindu pada negara-negara sebelah Selatan yang secuil dan penuh keindahan itu. “Antar” lebih banyak Arab dari pada Rusia. Daerahnya dongengan. Tak lain yang disukainya menggambarkan suatu iring-iringan manusia, dengan suara orkes yang bagus-bagus: iringan raja dari “Puteri salju”, suatu pawai dari “Ayam jantan emas.” {pendapat J. Van Ackere, di buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***
Yuja Wang, pianis yang kukenal lewat facebook, tatkala mencari musiknya Ravel.
Perempuan yang sejak kecil bermain piano, telah memainkan ciptaan Mozart sedari belia.
Atas denting jemarinya dipenuhi makna, diriku belajar memahami musik klasik lebih sumringah.
Jauh mendekati sejarah. Di mana para komponis peroleh inspirasi dari belahan dunia sastra.
Lirisme musik Nikolay, selaksa gelas-gelas kristal saling beradu di kemeriahan pesta.
Atau deburan ombak berhantaman di udara, atas laut membiru bersimpan gelora rindu.
Kangen ganjil setingkatan cahaya, tanpa hasrat kemerah.
Seputih kekhusyukan sayap-sayap malaikat membentuk pelangi, oleh tekanan hawa mempurna.
Orkestrasinya halus menusuk, bening berkilau-kemilau dari anugerah pancaindara yang tajam.
Menggubah irama warna memikat pandang, mendentingi telinga, menyusul kerinduannya.
Selalu menemukan instrumen ke belahan lain, melodian akrobatik, bau-bau harum menyebar dari jari-jemari penyair.
Nada-nada percepatan letak renungan, umpama hujaman belati tidak henti menyayat-mengiris.
Sampai pedihnya secabikan kekal, bathin larut ke dalam khasana bermusik.
Yuja Wang tak hendak hembuskan nafas, kecuali menjejaki pohon-pohon ingatan tertinggi.
Mengolah keluar-masuknya peroleh limpahan cahaya, detik-detik tarikan mengikuti skat telah ditentukan berabadi.
Percepatan gesekan sinar menyeruak wewarna, tak istirah pesonakan mata pun telinga.
Padanya jiwa perasa mengakui keuletan menebarkan bunga, kelopak-kelopak lepas mendenting akhir memberkah.
Kusimak kepiawaian Yuja Wang menghantarkan Bumble Bee (Rimsky-Korsakov / Cziffra) lewat You Tube;
selaksa memperhatikan puisi penyair Amerika, Amy Lowell (1874-1925) bertitel AWAN MALAM:
Kuda-kuda betina dari bulan memburu sepanjang angkasa
Memukul dengan tapak-tapak emas pada langit-langit kaca;
Kuda-kuda betina dari bulan semua tegak pada kaki belakangnya
Memukul gerbang porselin hijau dari langit-langit jauh.
Melayanglah, para kuda!
Kerahkan seluruh tenaga!
Deraikan debu bintang membima,
Kalau tidak, mentari -harimau sergap dan binasa kamu
Dengan sekali jilat lidahnya merah.
{dari buku Puisi Dunia, jilid II, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1953}
Pun yang dilantunkan awal kali penyair Inggris, John Keats (1795-1821):
“Jendela magis yang melihat ke buih
Lautan bersahaya di negeri dongengan sepi”
Rimsky-Korsakov, tepatnya seorang penyair pelukis musik; hasil ciptaan iramanya menelusuri dongeng purba penuh nuanse warna.
Alam pandangan mata diberikan karunia berlimpah, menyadap waktu silam bagi mekaran bunga-bunga kesaksian di setiap jaman.
Atas kejelian teliti, mampu menahan nafas-nafas penyimak, dirinya menebali tapak-tapak berkarya.
Tak ada keterlenaan, semua diatur mengarungi kepak keseriusan suci, cahaya menyeruak mekarkan kembang kemakmuran indrawi.
Kegemilangan wewarna musik Nikolay melampaui seniman lukis, jaman di depannya; pencapaiannya melebihi Andy Warhol (1928-1987).
Inilah gugusan sabda bunyi-bunyian terang memikat, mengangkat perasaan berfikir, melakoni kemenjadian, mengalir, meliuk.
Seakan kerlingan mata penggoda menjatuhkan peramal, suatu ciptaan takdir tak dapat diulang.
Menajamkan kedudukan keniscayaan ada, pada kelahiran serta kematian tepat di jantung Masa.
Tampilkan postingan dengan label John Keats (1795-1821). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Keats (1795-1821). Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 April 2010
Minggu, 17 Januari 2010
John Keats (1795-1821)
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
TENTANG KEMATIAN
John Keats
Mungkinkah mati itu: tidur, bila hidup hanyalah mimpi,
Dan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu?
Segala kesenangan fana seakan-akan hayali.
Betapapun, hemat kita: matilah terperih antara pilu.
Alangkah anehnya: insan harus mengembarai bumi,
Dan walau hidup serba sengsara, namun masih saja
Setia dijalannya keras dan tak ayal berani sendiri
Menatap bencana nanti, yang hakikatnya bangun belaka.
John Keats (1795-1821), penyair Inggris lahir di London meninggal di Roma. Keturunan murba, karenanya dalam pendidikan jauh tercecer dibanding temannya; Byron, Shelley. Walau demikian berhasil mencapai tingkat pengetahuan setara, berkat rajin belajar sendiri. Mulai mengarang usia muda, menarik perhatian orang-orang terkemuka pada panggung kesusastraan Inggris di jamannya, Ligh Hunt dan William Hazlitt yang kemudian sebagai pelindungnya. Mula-mula terpengaruh Ligh Hunt mengikuti perhimpunan Cockney, yang menggunakan bahasa sehari-hari dalam kegiatan bersastra. Karenanya mendapat serangan dari golongan lain. Himpunan sajak pertamanya terbit 1817: Poems, lalu berturut-turut buahpena lainnya, Endymion (1818), Lamia, Isabella, The Eve of St. Agnes, serta sajak-sajak hasil keharuan cintanya kepada Fanny Brawne. Sajak besarnya penghabisan tak sampai diselesaikan, Hyperion. Keats meninggalkan Inggris karena sakit juga kasih tak sampai, berangkat ke Itali tak lama sesudahnya meninggal di Roma. Antara tiga penyair jaman romantik Inggris yang bersahabat; Byron, Keats, Shelley -ketiganya mati muda- Keatslah dalam pandangan modern dianggap terbaik. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}
***
Membaca puisi-puisi terjemahan serupa menyentuh jasad dalam cermin, meraba perkirakan sejauh menebar jejaring kemungkinan, dapat benar mencapai yang dituju kembangkan.
Laksana merentangkan tangan di pagi hari meresapi kehadiran kabut atau membaca ulang berbagai sudut pandang puitik, kiranya taksiran sampai pada ketepatan.
Andai tak terjamah-jemah sama sekali harapan penyairnya, dapat ambil bebulir kata-katanya. Ku kira yang menyentuh kedalaman kalbu benar adanya.
Jika makna suasana puitik bahasa universal, diri ingin mendekati, mendekap erat guna mengerti hakikat puisi dari beberapa terjemahan.
Ku rasa pelajaran sehari-hari kelak menentukan wewarna bentuk formula tersendiri, sadar atau tidak jarak terjemahkan pengertian sampai.
Memang tidak peroleh pembenaran seratus persen, toh diri ini bukan lahir dari beberapa bangsa yang tradisinya berbeda, tapi pengalaman menyepakati bahwa sastra milik dunia.
Seminimnya menyaksikan semangat kreatif yang menggila, bisa dicontoh bagi bangsa dirundung masalah juga bencana.
Yang jika tak disadari akan meruntuhkan mental berbangsa demi setara, sederajat insan sama-sama penghuni bumi atas kuasa-Nya.
Demikian keyakinan, umpama tangan memukul bidang padat meski sakit kalau dilatih menambah kekuatan, walau sebagian tulang retak imbalannya sanggup menghantam keras.
Juga perdalam manahan nafas di sendang, mula-mula dada tak tahan namun dilanjutkan memiliki ketahanan mempuni bernafas panjang nan jernih, kala di luar rendaman.
Betapa bahasa puisi laksana tiupan bayu, lama-lama menangkap hembusannya lewati kesadaran, tentu mengenal beberapa corak karekternya.
Sejenis itulah pendekatanku mempelajari kebebalan berharap tergerus kepicikan sekadar percaya diri.
Setelah mengupas Byron dan Shelley, kini restui menyimak pelahan maksud penyair Keats atas puisinya.
Kuharap apa-apa tertanda bisa mengurangi beban penasaran, syukur melenyapkan tanggul keraguan, meski tetap merasakan was-was.
Ku pikir itulah debaran gelisah terpancang berharap kehadiran bersesuaian ketakdiran hayat.
Demi mudah kucerna, kutafsir dua baris dua baris puisinya. Semoga berkenan menggayuh rupa kata-kataku yang kadang sulit dipegang. Tapi kuandai genggaman lembut bisa diterima dan diteruskan.
I
Membaca puisi yang memakai bahasa sehari-hari kudunya memetik peristiwa di balik penalaran tersaji. Keats betapa merasa hidup dalam kandungan misteri serupa mimpi, tidur-nya mati.
Kesenangan-kesedihan lepas tak terkendali gambarannya dilesatkan kemungkinan mengendarai perubahan masa. Manusia bengong hilang kesadaran ditarik kejadian pilu, terus pertanyakan yang sesungguhnya teralami.
Yakni hakikat hayat di dunia, apakah hanya mampir minum (dari peribahasa Jawa), atau melemparkan batu tiada mengetahui di mana jatuhnya nanti?
II
Betapa Keats merenungi hidup mewangi bergelimang mewah tetaplah hayali, dibanding kelezatan fikiran pesona kecantikan bathin menerima pengajara. Itu pun tak abadi sebab kesedihan takkan habis di muka bumi.
Lantas datang pemahaman, kesakitanlah nikmat tiada banding, namun masih diselumuti halusinasi. Atau taman kembang mekarkan ribuan harum, setelah mengolah bencah, seakan tercapai kelopak bahagia.
Musim berganti, ladang diolah kembali seair sungai dialirkan guna tak keruh mencemari. Dan kematian seniscaya keajaiban masa-masa kelahiran di sisi kepedihan.
III
Mentakjubi warna hidup sangat beragam di samping keganjilan menghidupi nafas kalbu fikirannya, dan kesakitan melahirkan cabang pengetahuan sebagai permainan menentukan sikap yang dihadapi.
Mengembarai masa lalu dari catatan silam demi pelajari kebuntuan membelit langkah. Data dikelompokkan tiap kesadarannya, demi mudah memindahkan beban sampai taraf kefahaman universal. Dan meski mencapai kebenarannya tetap dirundung gelisah.
Ini akar musabab, betapa jiwa-jiwa rumpil gampang dihanyutkan. Hanya yang sudi berdamai segala soal, menerima fitroh masing-masing terus pada kesengsaraan gamang merebut pengertian.
IV
Keats menyadari beban berat insan berasal kepemilikan kalbu fikiran, diharuskan bersungguh mengolah keduanya dengan berani menatapi bencana, demi peroleh nikmat di jalan sengsara.
Di penghujung puisinya ditaruh yang dipanggul di sudut ruangan, tapi masih dipandangi dalam-dalam berulang, menafsirkan bolak-balik kefahaman guna tetapkan kehendak kepastian.
Was-was terbit diperhatikan lewat tatapan tajam menyetiai genggaman tangan, pada benang layang-layang diterpa angin kencang, hawatir-hawatir luput diharusnya mengulang yang dirindukan.
Sedikit-sedikit disimpan agar tak lenyap maknawi kehadiran, meski saat lelah hanya tampak bangun belaka, tetapi tidakkah tidur panjang laksana kebodohan?
Keats sumbangkan hasana puitik agar tak lenyap pengamatan dilalui teramat dalam pula kerasnya kehidupan, meski sesaat.
http://pustakapujangga.com/
TENTANG KEMATIAN
John Keats
Mungkinkah mati itu: tidur, bila hidup hanyalah mimpi,
Dan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu?
Segala kesenangan fana seakan-akan hayali.
Betapapun, hemat kita: matilah terperih antara pilu.
Alangkah anehnya: insan harus mengembarai bumi,
Dan walau hidup serba sengsara, namun masih saja
Setia dijalannya keras dan tak ayal berani sendiri
Menatap bencana nanti, yang hakikatnya bangun belaka.
John Keats (1795-1821), penyair Inggris lahir di London meninggal di Roma. Keturunan murba, karenanya dalam pendidikan jauh tercecer dibanding temannya; Byron, Shelley. Walau demikian berhasil mencapai tingkat pengetahuan setara, berkat rajin belajar sendiri. Mulai mengarang usia muda, menarik perhatian orang-orang terkemuka pada panggung kesusastraan Inggris di jamannya, Ligh Hunt dan William Hazlitt yang kemudian sebagai pelindungnya. Mula-mula terpengaruh Ligh Hunt mengikuti perhimpunan Cockney, yang menggunakan bahasa sehari-hari dalam kegiatan bersastra. Karenanya mendapat serangan dari golongan lain. Himpunan sajak pertamanya terbit 1817: Poems, lalu berturut-turut buahpena lainnya, Endymion (1818), Lamia, Isabella, The Eve of St. Agnes, serta sajak-sajak hasil keharuan cintanya kepada Fanny Brawne. Sajak besarnya penghabisan tak sampai diselesaikan, Hyperion. Keats meninggalkan Inggris karena sakit juga kasih tak sampai, berangkat ke Itali tak lama sesudahnya meninggal di Roma. Antara tiga penyair jaman romantik Inggris yang bersahabat; Byron, Keats, Shelley -ketiganya mati muda- Keatslah dalam pandangan modern dianggap terbaik. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}
***
Membaca puisi-puisi terjemahan serupa menyentuh jasad dalam cermin, meraba perkirakan sejauh menebar jejaring kemungkinan, dapat benar mencapai yang dituju kembangkan.
Laksana merentangkan tangan di pagi hari meresapi kehadiran kabut atau membaca ulang berbagai sudut pandang puitik, kiranya taksiran sampai pada ketepatan.
Andai tak terjamah-jemah sama sekali harapan penyairnya, dapat ambil bebulir kata-katanya. Ku kira yang menyentuh kedalaman kalbu benar adanya.
Jika makna suasana puitik bahasa universal, diri ingin mendekati, mendekap erat guna mengerti hakikat puisi dari beberapa terjemahan.
Ku rasa pelajaran sehari-hari kelak menentukan wewarna bentuk formula tersendiri, sadar atau tidak jarak terjemahkan pengertian sampai.
Memang tidak peroleh pembenaran seratus persen, toh diri ini bukan lahir dari beberapa bangsa yang tradisinya berbeda, tapi pengalaman menyepakati bahwa sastra milik dunia.
Seminimnya menyaksikan semangat kreatif yang menggila, bisa dicontoh bagi bangsa dirundung masalah juga bencana.
Yang jika tak disadari akan meruntuhkan mental berbangsa demi setara, sederajat insan sama-sama penghuni bumi atas kuasa-Nya.
Demikian keyakinan, umpama tangan memukul bidang padat meski sakit kalau dilatih menambah kekuatan, walau sebagian tulang retak imbalannya sanggup menghantam keras.
Juga perdalam manahan nafas di sendang, mula-mula dada tak tahan namun dilanjutkan memiliki ketahanan mempuni bernafas panjang nan jernih, kala di luar rendaman.
Betapa bahasa puisi laksana tiupan bayu, lama-lama menangkap hembusannya lewati kesadaran, tentu mengenal beberapa corak karekternya.
Sejenis itulah pendekatanku mempelajari kebebalan berharap tergerus kepicikan sekadar percaya diri.
Setelah mengupas Byron dan Shelley, kini restui menyimak pelahan maksud penyair Keats atas puisinya.
Kuharap apa-apa tertanda bisa mengurangi beban penasaran, syukur melenyapkan tanggul keraguan, meski tetap merasakan was-was.
Ku pikir itulah debaran gelisah terpancang berharap kehadiran bersesuaian ketakdiran hayat.
Demi mudah kucerna, kutafsir dua baris dua baris puisinya. Semoga berkenan menggayuh rupa kata-kataku yang kadang sulit dipegang. Tapi kuandai genggaman lembut bisa diterima dan diteruskan.
I
Membaca puisi yang memakai bahasa sehari-hari kudunya memetik peristiwa di balik penalaran tersaji. Keats betapa merasa hidup dalam kandungan misteri serupa mimpi, tidur-nya mati.
Kesenangan-kesedihan lepas tak terkendali gambarannya dilesatkan kemungkinan mengendarai perubahan masa. Manusia bengong hilang kesadaran ditarik kejadian pilu, terus pertanyakan yang sesungguhnya teralami.
Yakni hakikat hayat di dunia, apakah hanya mampir minum (dari peribahasa Jawa), atau melemparkan batu tiada mengetahui di mana jatuhnya nanti?
II
Betapa Keats merenungi hidup mewangi bergelimang mewah tetaplah hayali, dibanding kelezatan fikiran pesona kecantikan bathin menerima pengajara. Itu pun tak abadi sebab kesedihan takkan habis di muka bumi.
Lantas datang pemahaman, kesakitanlah nikmat tiada banding, namun masih diselumuti halusinasi. Atau taman kembang mekarkan ribuan harum, setelah mengolah bencah, seakan tercapai kelopak bahagia.
Musim berganti, ladang diolah kembali seair sungai dialirkan guna tak keruh mencemari. Dan kematian seniscaya keajaiban masa-masa kelahiran di sisi kepedihan.
III
Mentakjubi warna hidup sangat beragam di samping keganjilan menghidupi nafas kalbu fikirannya, dan kesakitan melahirkan cabang pengetahuan sebagai permainan menentukan sikap yang dihadapi.
Mengembarai masa lalu dari catatan silam demi pelajari kebuntuan membelit langkah. Data dikelompokkan tiap kesadarannya, demi mudah memindahkan beban sampai taraf kefahaman universal. Dan meski mencapai kebenarannya tetap dirundung gelisah.
Ini akar musabab, betapa jiwa-jiwa rumpil gampang dihanyutkan. Hanya yang sudi berdamai segala soal, menerima fitroh masing-masing terus pada kesengsaraan gamang merebut pengertian.
IV
Keats menyadari beban berat insan berasal kepemilikan kalbu fikiran, diharuskan bersungguh mengolah keduanya dengan berani menatapi bencana, demi peroleh nikmat di jalan sengsara.
Di penghujung puisinya ditaruh yang dipanggul di sudut ruangan, tapi masih dipandangi dalam-dalam berulang, menafsirkan bolak-balik kefahaman guna tetapkan kehendak kepastian.
Was-was terbit diperhatikan lewat tatapan tajam menyetiai genggaman tangan, pada benang layang-layang diterpa angin kencang, hawatir-hawatir luput diharusnya mengulang yang dirindukan.
Sedikit-sedikit disimpan agar tak lenyap maknawi kehadiran, meski saat lelah hanya tampak bangun belaka, tetapi tidakkah tidur panjang laksana kebodohan?
Keats sumbangkan hasana puitik agar tak lenyap pengamatan dilalui teramat dalam pula kerasnya kehidupan, meski sesaat.
Langganan:
Postingan (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya