Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
LAGU MALAM DI AMALFI
Sara Teasdale
Kutanyai langit gemintang,
Apa yang dapat kuberi kasihku.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap diluhur.
Kutanyai laut mengarang
Yang menelan anak nelayan.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap mendalam.
Wahai, ia dapat kuberi ratap
Atau hiburan suatu nyanyian,
Tapi betapa memberinya senyap,
Selama hayat dikandung badan.
Sara Teasdale (8 Agus 1884 - 29 Jan 1933) penyair Amerika, lahir dan mendapat pendidikan di kota St. Louis. Sering keliling Eropa, juga Timur Tengah, menetap di New York 1916. Himpunan sajaknya yang pertama, Sonnets to Duse. Sifat kentara sajaknya, pendek tetapi tajam, lincah memainkan kata-kata yang digerakkannya, atas alunan irama gemulai. Buahpena terkenalnya, Flame and Shadow (1920), berkenaan isi meningkatnya usia, semakin dalam fikirannya, tentang jaman akan datang, juga perubahan dibawa pertukaran tahun. Seperti Emily Dickinson, ucapannya ringkas namun mengagumkan. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}.
Berpuisi ialah seni berbahasa, memancarkan keindahan cahaya kata, demikian pula sosok wanita, santun berwibawa.
Manakala keduanya terangkum, kelembutan bertumpuk, kabut mengendap memakmurkan buliran embun mata, yang penyapa di pepagian dunia.
Ketika Teasdale memanjangkan rambut ikalnya, kekuatan ditambah dinaya kesabaran, merawat tabah berkibar, menggendarai masa di atas kapal.
Berlayar menyeberangi lautan bathiniah, menyibak gelombang menelan ombak, menyapu awan nun jauh tertinggal.
Hidup dilewati sampai dasar kebeningan, pandangan tegap ke depan tiada goyang keraguan, selain cubitan kadang sesayupan.
Pudar kembali menekan kencang, melapangkan dada serentang sayap-sayap elang, mengapung menikmati perikehidupan.
Dan setiap kata memiliki nafas-nafas, seperti pendaran cahaya memantul di dinding kaca;
barangsiapa malafalkan dengan kemerduan mesra, akan diperoleh keremajaan sentausa.
Keayuan langgeng tak terbantah, sebab sajak mampu mengangkat aura dari kedalaman jiwa, meski sedang pekat putus asa.
Kini haturkan diriku, terjemahkan karya Teasdale di atas, dengan biasa dalam tradisi sorogan kitab klasik.
Jikalau ada kekenesan, anggap sedang kutaburi pemanis gula asli, guna tak pekat penalaran saja, tetapi ada alunan sukma, meski sulit dimengerti.
Begitu ringan melangkah difahami, dengan kalbu keikhlasan, demi waktu kuharap mematangkan.
Malam di Amalfi, Teasdale pertanyakan langit gemintang, akan lagu paling pantas dikumandangkan, bagi persembahan.
Namun hanya senyap melantang diluhur tulang;
jawabnya masa di sisi tenggang. Yang bangkitkan hantu-hantu kerinduan, dari abad silam-semilam.
Ada menggeliat di sebalik kesadaran;
perasaan menelusup lembut membuka kelambu kenangan, seakan pintu jendela terbuka lebar menggenapi.
Lentik bebintang mencipta percakapan tiada habisnya, menampung luapan. Ku kira kelembutan kalbu setelah direbus peristiwa hitam, melantak tanjung karang rontok segala keinginan.
Teasdale diselimuti hawa dingin sulit dilukiskan, tapi sangat kentara pada degupan jantung sepi, menggerayangi sekujur kesendirian surgawi.
Terus bertanya dalam tangis kesedihan tegar mendalam, nirwana bathinnya menjadi puing-puing berserakan, air matanya berjatuhan, bulir-bulir garam kepedihan.
Getaran tubuhnya gemeretakkan tanah merah dusta di negeri pewayangan, ditelan bumi sesengguhan tiada tertahan.
Atas jawaban senyap melantang menggemakan ceruk keperihan segala harapan. Namun, ketika menghirup nafasan kembali, hawa sedap malam meremajakan nurani kemanusiaan.
Hadir keriangan ganjil jiwa Teasdale, menyerupai bocah meloncat keluar, berhamburan menuju pelataran, melihat ibunda pulang dari pasar.
Betapa kecewa mengetahui tiada oleh-oleh, meski sekadar kembang gula, senyap rapuh membuatnya berguling-guling di tanah.
Kesadaran dikandung badan melebur sejumlah ujaran moyang. Dirinya menyaksikan keterusterangan berpuisi, yang kelak diwedarkan nafasan penghayatan.
Sunyi masa, mengombak sepanjang rambut ikal panjang menyusuri anganan, menggalang ingatan kerinduan.
Sedang senyumanmu, selalu menebarkan bau-bau ketulusan kembang keabadian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar