Sabtu, 27 Februari 2010

Sara Teasdale (1884-1933)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

LAGU MALAM DI AMALFI
Sara Teasdale

Kutanyai langit gemintang,
Apa yang dapat kuberi kasihku.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap diluhur.

Kutanyai laut mengarang
Yang menelan anak nelayan.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap mendalam.

Wahai, ia dapat kuberi ratap
Atau hiburan suatu nyanyian,
Tapi betapa memberinya senyap,
Selama hayat dikandung badan.

Sara Teasdale (8 Agus 1884 - 29 Jan 1933) penyair Amerika, lahir dan mendapat pendidikan di kota St. Louis. Sering keliling Eropa, juga Timur Tengah, menetap di New York 1916. Himpunan sajaknya yang pertama, Sonnets to Duse. Sifat kentara sajaknya, pendek tetapi tajam, lincah memainkan kata-kata yang digerakkannya, atas alunan irama gemulai. Buahpena terkenalnya, Flame and Shadow (1920), berkenaan isi meningkatnya usia, semakin dalam fikirannya, tentang jaman akan datang, juga perubahan dibawa pertukaran tahun. Seperti Emily Dickinson, ucapannya ringkas namun mengagumkan. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}.

Berpuisi ialah seni berbahasa, memancarkan keindahan cahaya kata, demikian pula sosok wanita, santun berwibawa.

Manakala keduanya terangkum, kelembutan bertumpuk, kabut mengendap memakmurkan buliran embun mata, yang penyapa di pepagian dunia.

Ketika Teasdale memanjangkan rambut ikalnya, kekuatan ditambah dinaya kesabaran, merawat tabah berkibar, menggendarai masa di atas kapal.

Berlayar menyeberangi lautan bathiniah, menyibak gelombang menelan ombak, menyapu awan nun jauh tertinggal.

Hidup dilewati sampai dasar kebeningan, pandangan tegap ke depan tiada goyang keraguan, selain cubitan kadang sesayupan.

Pudar kembali menekan kencang, melapangkan dada serentang sayap-sayap elang, mengapung menikmati perikehidupan.

Dan setiap kata memiliki nafas-nafas, seperti pendaran cahaya memantul di dinding kaca;

barangsiapa malafalkan dengan kemerduan mesra, akan diperoleh keremajaan sentausa.

Keayuan langgeng tak terbantah, sebab sajak mampu mengangkat aura dari kedalaman jiwa, meski sedang pekat putus asa.

Kini haturkan diriku, terjemahkan karya Teasdale di atas, dengan biasa dalam tradisi sorogan kitab klasik.

Jikalau ada kekenesan, anggap sedang kutaburi pemanis gula asli, guna tak pekat penalaran saja, tetapi ada alunan sukma, meski sulit dimengerti.

Begitu ringan melangkah difahami, dengan kalbu keikhlasan, demi waktu kuharap mematangkan.

Malam di Amalfi, Teasdale pertanyakan langit gemintang, akan lagu paling pantas dikumandangkan, bagi persembahan.

Namun hanya senyap melantang diluhur tulang;
jawabnya masa di sisi tenggang. Yang bangkitkan hantu-hantu kerinduan, dari abad silam-semilam.

Ada menggeliat di sebalik kesadaran;
perasaan menelusup lembut membuka kelambu kenangan, seakan pintu jendela terbuka lebar menggenapi.

Lentik bebintang mencipta percakapan tiada habisnya, menampung luapan. Ku kira kelembutan kalbu setelah direbus peristiwa hitam, melantak tanjung karang rontok segala keinginan.

Teasdale diselimuti hawa dingin sulit dilukiskan, tapi sangat kentara pada degupan jantung sepi, menggerayangi sekujur kesendirian surgawi.

Terus bertanya dalam tangis kesedihan tegar mendalam, nirwana bathinnya menjadi puing-puing berserakan, air matanya berjatuhan, bulir-bulir garam kepedihan.

Getaran tubuhnya gemeretakkan tanah merah dusta di negeri pewayangan, ditelan bumi sesengguhan tiada tertahan.

Atas jawaban senyap melantang menggemakan ceruk keperihan segala harapan. Namun, ketika menghirup nafasan kembali, hawa sedap malam meremajakan nurani kemanusiaan.

Hadir keriangan ganjil jiwa Teasdale, menyerupai bocah meloncat keluar, berhamburan menuju pelataran, melihat ibunda pulang dari pasar.

Betapa kecewa mengetahui tiada oleh-oleh, meski sekadar kembang gula, senyap rapuh membuatnya berguling-guling di tanah.

Kesadaran dikandung badan melebur sejumlah ujaran moyang. Dirinya menyaksikan keterusterangan berpuisi, yang kelak diwedarkan nafasan penghayatan.

Sunyi masa, mengombak sepanjang rambut ikal panjang menyusuri anganan, menggalang ingatan kerinduan.

Sedang senyumanmu, selalu menebarkan bau-bau ketulusan kembang keabadian.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )