Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
KEPADA SPANYOL
José de Espronceda
Percuma kini megah menara ditembok batu dan kekayaan sumber-sumbermu.
Tunjukkan daku sisa pusaka pahlawan perkasa, yang mewangi namamu dengan waninya.
Pernah kau dulu bertahta, tinggi laksana pohon yang megah di puncak gunung Libanon.
Suaramu: Halilintar, bergegar menyambar hati pengecut dengan geger dan gentar takut.
Kau kini terlantar; nasibmu sedih: Padang tandus, dimana sunyi berbungkus mampus.
Dan kembang harapan bangsa, hidup merana, sengsara di jalan rantau dunia.
Kebesaran lama tenggelam sudah, bertutup debu, di bawah rumput dan akar kayu;
Dan kala budak belian melihat nasibmu, tertawa ia, lupa dulu engkau tuannya.
Don José de Espronceda (1808-1842), penyair Spanyol, lahir di Almendralejo (Extremadura), meninggal di Madrid. Ia paling revolusioner di kalangan kaum romantik Spanyol, mengalami tiga kali pembuangan, ke Lissabon, London dan Paris. Ikut berkelahi bersama kaum revolusioner Perancis di Paris, mengalami badai asmara di Lissabon, meninggal di usia 33 tahun, dalam keadaan sengsara, tapi disaat kemashurannya. Nama julukannya “Byron” Spanyol, yang sangat dipengaruhi Byron dan Hugo. Buahpenanya terpenting sajak; Pelayo, El diablo Mundo, El estudiante Salamanca dan elegi A Teresa, ditujukan bagi kekasih yang telah meninggalkannya. {dari buku Puisi Dunia, jilid I, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}
***
Suara penyair itu gema bathin paling pribadi, dari resapan derita dirasai semesta. Sebagai wakil kesunyian alam, mendendangkan kesendirian, bagi eksistensi kemanusiaan.
Suaranya mengalung seolah tanpa jejak, mega-mega di ruang kasih sayang. Awan tiada terbatas berkelana, menyimpan kesepian, lalu hujan sulingan pemikiran.
Tatkala bangkitkan semangat kebangsaan, sejatinya tengah mengangkat ras kemanusiaan, sebab dirinya memilik kerinduan hakiki, kangen daya ketegaran.
Maka gairah sepinya dihantarkan, demi naiknya drajat kesamaan, harapan berbangsa sama-sama tinggi, tak ada pengecualian.
Mencipta paduan suara harmonis, menyelaraskan goyangan alam dengan penghuninya, tulus bahu-membahu untuk kelanggengan damainya kalbu.
Menara baginya ketinggian pencapaian dalam ilmu pengetahuan, nilai-nilai tertata, sepantasnya atas masing-masing pencarian.
Sebangun candi, batu-batu saling melengkapi menuwai arti, sudut berkisah warna hayati, tapi bukan candi yang dimaksud, namun ruh candi dalam pribadi.
Hakikat melestarikan pusaka, mewangi bathin selaguan gelombang tiada peperangan, kecuali pada wujud keangkuhan, kemalasan, keserakahan, dan yang merongrong jati diri hayat.
Lalu ditaruh stupa, selayak tancapkan gunung logika, agar semua pandangan terpancang kebersamaan, dilaluinya tangga demi tangga, fitroh luhur kehidupan.
Benar ujaran para orang utama, mewariskan kekayaan selain ilmu akan terjadi perebutan kuasa, tahta abadi ialah sumber pengetahuan, puncaknya saling mengasihi.
Suara bathin terdalam penyair menggagalkan tipu muslihat, sukmanya menghalilir otak terjerumus kebendaan.
Menyambar hati pecundang menggegerkan jiwa takut kehilangan, kesunyiannya merangsek penuhi gending-gending keselarasan.
Saat sastra bertiupan terompet ideologi, tentu memukau, tetapi terhilangkan kesastrawiannya, demikian menjumput pandangan Gao Xingjian, dalam pidato Nobel.
Keterlantaran nasibnya memasuki faham, menyusuri cela sempit tak mampu melampaui kurun jaman perubahan, tak jauh menaburkan benih teremban, hanya masuk kotak suara, yang kosong penghuni.
Padang penalarannya dimaknai picik lawan politik, maka tanduslah perolehannya, bunga-bunga tidak bermekaran bahagia di pot mewah, jarang peroleh sentuhan mesra tuan rumahnya.
Sastra jadi ajang perdebatan semata, bukan menaungi jiwa-jiwa dengan keharuan purna. Meranalah nilai-nilai saling bertikai, menjegal beradu dikdaya.
Bisikan bathin tak lagi sanggup didengungkan lantang, demi setalian mengguyuri rindu kesejatian.
Sengsaralah jalan rantauan dunia, gersang memanas hanya merebus urat syaraf, sebab kalbu terbengkalai, tiada kemampuan gairah, selain nafsu profan semata.
Keberagaman terkubur, tertutupi debu pertikaian, kala menyuarakan kepentingan pribadi-golongan yang diutamakan.
Gaungnya penghias belaka, akar-akaran kayu tak sanggup menghisap sumber mata air murni, dari ibunda bumi yang melapangkan lahirnya hembusan nurani.
Budak nasibnya diperebutkan kekuasaan politik, budaknya para budak takdir tak pantas diraih.
Para penguasa tertawa, sastra menjadi permainan tidak berpribadi, citranya ludes diketiak materi.
Demikian pantulkan sajak Espronceda dengan pemahaman lain, maknanya boleh diluruskan.
Demi memurnikan kesejatian terpampang, penggali ruh pengertian, sebagai pengejawantah bahasa keindahan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar