Kamis, 04 Februari 2010

José de Espronceda (1808-1842)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

KEPADA SPANYOL
José de Espronceda

Percuma kini megah menara ditembok batu dan kekayaan sumber-sumbermu.
Tunjukkan daku sisa pusaka pahlawan perkasa, yang mewangi namamu dengan waninya.

Pernah kau dulu bertahta, tinggi laksana pohon yang megah di puncak gunung Libanon.
Suaramu: Halilintar, bergegar menyambar hati pengecut dengan geger dan gentar takut.

Kau kini terlantar; nasibmu sedih: Padang tandus, dimana sunyi berbungkus mampus.
Dan kembang harapan bangsa, hidup merana, sengsara di jalan rantau dunia.

Kebesaran lama tenggelam sudah, bertutup debu, di bawah rumput dan akar kayu;
Dan kala budak belian melihat nasibmu, tertawa ia, lupa dulu engkau tuannya.

Don José de Espronceda (1808-1842), penyair Spanyol, lahir di Almendralejo (Extremadura), meninggal di Madrid. Ia paling revolusioner di kalangan kaum romantik Spanyol, mengalami tiga kali pembuangan, ke Lissabon, London dan Paris. Ikut berkelahi bersama kaum revolusioner Perancis di Paris, mengalami badai asmara di Lissabon, meninggal di usia 33 tahun, dalam keadaan sengsara, tapi disaat kemashurannya. Nama julukannya “Byron” Spanyol, yang sangat dipengaruhi Byron dan Hugo. Buahpenanya terpenting sajak; Pelayo, El diablo Mundo, El estudiante Salamanca dan elegi A Teresa, ditujukan bagi kekasih yang telah meninggalkannya. {dari buku Puisi Dunia, jilid I, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}
***

Suara penyair itu gema bathin paling pribadi, dari resapan derita dirasai semesta. Sebagai wakil kesunyian alam, mendendangkan kesendirian, bagi eksistensi kemanusiaan.

Suaranya mengalung seolah tanpa jejak, mega-mega di ruang kasih sayang. Awan tiada terbatas berkelana, menyimpan kesepian, lalu hujan sulingan pemikiran.

Tatkala bangkitkan semangat kebangsaan, sejatinya tengah mengangkat ras kemanusiaan, sebab dirinya memilik kerinduan hakiki, kangen daya ketegaran.

Maka gairah sepinya dihantarkan, demi naiknya drajat kesamaan, harapan berbangsa sama-sama tinggi, tak ada pengecualian.

Mencipta paduan suara harmonis, menyelaraskan goyangan alam dengan penghuninya, tulus bahu-membahu untuk kelanggengan damainya kalbu.

Menara baginya ketinggian pencapaian dalam ilmu pengetahuan, nilai-nilai tertata, sepantasnya atas masing-masing pencarian.

Sebangun candi, batu-batu saling melengkapi menuwai arti, sudut berkisah warna hayati, tapi bukan candi yang dimaksud, namun ruh candi dalam pribadi.

Hakikat melestarikan pusaka, mewangi bathin selaguan gelombang tiada peperangan, kecuali pada wujud keangkuhan, kemalasan, keserakahan, dan yang merongrong jati diri hayat.

Lalu ditaruh stupa, selayak tancapkan gunung logika, agar semua pandangan terpancang kebersamaan, dilaluinya tangga demi tangga, fitroh luhur kehidupan.

Benar ujaran para orang utama, mewariskan kekayaan selain ilmu akan terjadi perebutan kuasa, tahta abadi ialah sumber pengetahuan, puncaknya saling mengasihi.

Suara bathin terdalam penyair menggagalkan tipu muslihat, sukmanya menghalilir otak terjerumus kebendaan.

Menyambar hati pecundang menggegerkan jiwa takut kehilangan, kesunyiannya merangsek penuhi gending-gending keselarasan.

Saat sastra bertiupan terompet ideologi, tentu memukau, tetapi terhilangkan kesastrawiannya, demikian menjumput pandangan Gao Xingjian, dalam pidato Nobel.

Keterlantaran nasibnya memasuki faham, menyusuri cela sempit tak mampu melampaui kurun jaman perubahan, tak jauh menaburkan benih teremban, hanya masuk kotak suara, yang kosong penghuni.

Padang penalarannya dimaknai picik lawan politik, maka tanduslah perolehannya, bunga-bunga tidak bermekaran bahagia di pot mewah, jarang peroleh sentuhan mesra tuan rumahnya.

Sastra jadi ajang perdebatan semata, bukan menaungi jiwa-jiwa dengan keharuan purna. Meranalah nilai-nilai saling bertikai, menjegal beradu dikdaya.

Bisikan bathin tak lagi sanggup didengungkan lantang, demi setalian mengguyuri rindu kesejatian.

Sengsaralah jalan rantauan dunia, gersang memanas hanya merebus urat syaraf, sebab kalbu terbengkalai, tiada kemampuan gairah, selain nafsu profan semata.

Keberagaman terkubur, tertutupi debu pertikaian, kala menyuarakan kepentingan pribadi-golongan yang diutamakan.

Gaungnya penghias belaka, akar-akaran kayu tak sanggup menghisap sumber mata air murni, dari ibunda bumi yang melapangkan lahirnya hembusan nurani.

Budak nasibnya diperebutkan kekuasaan politik, budaknya para budak takdir tak pantas diraih.

Para penguasa tertawa, sastra menjadi permainan tidak berpribadi, citranya ludes diketiak materi.

Demikian pantulkan sajak Espronceda dengan pemahaman lain, maknanya boleh diluruskan.

Demi memurnikan kesejatian terpampang, penggali ruh pengertian, sebagai pengejawantah bahasa keindahan.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )