Minggu, 17 Januari 2010

Luís Vaz de Camões atas bumi Nusantara

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

OS LUSIADES (canto X)
Luís Vaz de Camões

Di bawah sayap terkembang dari pagi menyala,
Lihat, tebaran pulau menghias laut cemerlang!
Tengah ratusan, walau belum bernama, lihat Ternate!
Kala siang, berliput gemawan tinggi bukit-bukitnya,
Kala malam, panji-panji api, bagai ombak menggulung,
Berkibar di laut dan giat menjulang ke langit tinggi
Di sini burung keemasan senantiasa melayangi
Angkasa, mencumbu Surya dengan warna gemilang,
Dan habis makan, terus membumbung masuk udara;
Dan baru kembali menyentuh bumi, bila habis nafasnya.
Di sini kepulauan Banda menerawang rendah indahnya
Dari ragam buahan, warna lazuwardi, merah dan putih;
Dan margasatwa -serbaindah warnanya - melagakkan
Bulunya kilau-kemilau; kala menjelajah puncak-puncak
Buih dan pucuk-pucuk pohon, ditandai sayapnya giat,
Untuk memungut upeti dari taman rempah-rempah.
Borneo pun mengembangkan dadanya yang kaya-raya,
Diselubungi oleh alam dengan hutan kapur barus.
Getah berharga yang dari pepohonan merintik,
Membubuskan panas sehat, ya; pembarut berisi penawar.
Indahnya gugusan Timur dengan tamannya beraturan!
Semua kali menggamit dalam bayangan serba wangi
Dan dalam dadanya cerah meriap rimbun pohon:
Cendana, penuh restu bahan obat yang mujarab.
Di mana dataran bumi yang luas meliku ke selatan,
Ke sana kerajaan Sunda menjangkaukan lengan kuasa
Dan dari sini peziarah membawa kabar-kabar ajaib,
Tentang suatu sungai yang merintih di lembah kering
(sekitarnya batu belaka) dan pohon apapun juga
Yang tumbang ke dalamnya, tak ayal menjadi batu.
Lihat, di udara: menggemilang biru Sumatera indah,
Bangkit nyala menggigil dari kawah suatu gunung;
Di sini pohon-pohon memelukan getah aneka wangi
Dan sumber-sumber ajaib membersitkan minyak paling halus.
Bukan itu semata penghasilan pulau bahagia ini.
Halus emasnya sukar ditanding dan sutranya kilau-kemilau.

Luís Vaz de Camões, lahir di Portugal 1525. Lulusan universitas di kota Coimbra. Berpendidikan klasik dan pengetahuan bahasanya luas. Tahun 1542-1546 hidup di Lissabon, menggubah sajak dan dramanya. Kekasihnya Dona Caterina de Athayde, seorang dayang istana Raja Portugal. Karena melanggar tatacara istana, Luis dibuang selama dua tahun jadi serdadu di Afrika, mata kanannya buta dalam pertempuran laut di Ceuta. Kembali ke Lissabon terbit perkelahian dengan pegawai istana, dihukum penjara lalu dibebaskan dengan syarat meninggalkan Portugal berangkat ke India (Goa) sebagai serdadu. Tahun 1556 dikirim ke Macao, melalui Malaka serta kepulauan Maluku, karena banyak halangan baru tahun 1558 sampai di Macao menjadi pekerja sipil. Dituduh korup lantas diungsikan ke India (dalam perjalanan kapalnya tenggelam di Kamboja), dirinya selamat, masih menjalani hukuman penjara di India, setelah bebas berangkat ke Mozambique menetap dua tahun menggubah sajaknya: Goa: Babel dan Si Anak Hilang. Tahun 1570 sampai di Portugal, menerbitkan buku Os Lusiades juga Rimas. Luis ialah penyair terbesar Portugis, meninggal tahun 1589. {dari buku Puisi Dunia, jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952}.
***

Sastrawan akan temukan bahasanya, kudu relakan diri bersusah payah, serupa ujaran para orang utama; ilmu hanya bisa diperoleh dengan bersungguh menempuh lapar dahaga.

Riwayat Luis menggetarkan onak duri lika-liku penjegalan ke alam puitika, dunia keterkejuran pandang melesat dari nurani, atas indra lembut menangkap warna lain bentukan mata.

Nilai-nilai sejukkan jiwa oleh jerit pembuangan dalam penjara, peperangan serta fitnah. Seakan tuhan mengangkat derajat insan asal kerasnya usaha pada terpaan badai laut amukan sejarah.

Tiada jera menggelinjak sekobaran api keabadian tertanam ke sukma, keseimbangan tercapai sebab syukur keagungan perjalanan ke Malaka, Maluku, jua mendengar kabar keindahan pulau sekitarnya.

Tak keliru pengakuan tersemat namanya penyair terbesar Portugis; ketabahan menjalahi hidupnya memunguti nilai-nilai tersebar di jalan kembara, ialah kekayaan menempa hayat penuh paripurna.

Di bawah ini kucoba kembarai puisinya, demi mengingat dekap kekayaan Nusantara tercinta:

Keindahan alam tak sekadar lukisan tentramkan jiwa, rerautnya menawan menggoda diterjemah lebih kepada Sang Pencipta.

Menetaskan gairah hidup bertujuan kilauan masa, tanjakan bukit-bukit menandaskan tingkatan usia pun boleh diartikan berbeda.

Keayuan menambahkan faham melalui bahasa santun nan jernih, alam merestui insan menghabrurkan hidup bersama bayu hayati memaknai.

Antara perih angin laut binaran cahaya harapan, awan-gemawan menuntun pelaku tidak lekas tenang ada kewaspadaan, sedang gemintang mengukur kesejatian bathin kembara.

Ketika tercebur lamunan lumat menikmati indrawi, biji mata turut syahdu menuliskan samudera pengetahuan yang membentang selangit biru.

Waktu bermelodi hangat, kiranya dinyayikan rasa syukur, dipersembah untuk generasi selanjutnya.

Burung-burung berharap terus kembara, melayang terapung ikuti ritme terpaan bayu, kesemangatan mengejawantah yang terjelma kepakan sayap.

Merentang sambil saksikan pesona lawatannya, dan cahaya surya menerobos gemawan kadang serasa teguran. Perasaan dihardik pula bersalam damai, laksana tingkatan pelajari ilmu di ruang perpustakaan.

Tak kenyang kalau berhasrat penerbangan jauh, oleh bisa memberatkan kepakan. Berkecukupan menerima menghantar sahaja, dari sinilah nafas kaidah meluncur serupa penerbangan elok dalam udara kebebasan berkarya.

Keadiluhungan pertiwi sepantasnya dirawat melestari, tidakkah buah-buahan berlimbah sejumlah gemintang tak terhitung di angkasa.

Hewan-gemewan tetumbuhan tegak berwibawa menjaga harmoni alam raya, tinggal insan pandai mengolah waspada, agar tak disusupi sifat serakah yang membuyarkan tatanan dunia.

Wewarna bunga berjenis kekupu juga lebah madu, menandakan surga mensyukuri tingkatan bijaksana. Tiada rerumputan mati oleh rimbun daun-daun pohonan, semua dapati limpahan cahaya surya adil merata.

Lewat jemari terampil pepucuk harapan sampai, sabar mengaduk bencah berkesuburan purna, tabah naik-turun gelombang musim-musim edarkan bencana pula kekayaan berlimpah.

Dada-dada bidang pekerja tangguh, dada-dada segar perawan lugu, terserap dalam nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Berjalan serasi selenggokan bidadari menarikan selendang pelagi, kesakralan menjaga wibawa, hilang rasa malu perhangus segala.

Oh sungguh berat merawat kekayaan, jikalau hati ada decak kagum lantas saling berebut kuasa.

Hasrat tak terarah jelmaan srigala di hutan belantara menyusupi senjakala. Maka kesedihan bagi belum mampu memaknai, kiranya tekun kembarai yang belum diwedarkan para pujangga.

Siapa tahu ketulusan cencangan akal gayuhan rindu; pernah ada kejelian pandang menghidupi nafas bumi putra. Ikhtiar kuat manis rasanya, tatkala sejenak istirah sambil meneguk ridho-Nya.

Negeri Timur Jauh taman mimpi bayang-bayangnya menjelma pancaran cahaya kalbu fikiran, menggali yang diedarkan perubahan.

Masa-masa makin harum semerbak bermusim kembang seteguh menggenggam yang diyakini.

Inilah obat mujarab alam memberi restui nafas-nafas melahirkan kefitrian bathin mengangkat kebahagiaan pengajaran.

Kebudayaan terindah menghiasi peradaban, selingkar kalung mutiara pada leher jenjang, yang haus dahaga ruapan kesejatian.

Kekisah kerajaan di Nusantara, para rajanya tampan berwibawa, pengawalnya gagah berani, putra-putra makhota memancarkan kharisma.

Tak kalah indah permaisuri dan dayang-dayangnya dibalut kemakmuran, rakyatnya patuh menziarahi kubur leluhur ngalap berkah pepundi ketentraman.

Ialah siklut halus bertautan alam penghuninya, sekabutan melindungi dari marabahaya, juga tiada tertandingi syair para pujangganya bersimpan dinaya yang sanggup meramal kejadian kan datang.

Sungguh gugusan bumi dikaruniai kesuburan berlimpah, keajaiban-keajaiban tersiar sesurat kabar ke negeri seberang.

Gunung-gemunungnya setegar jiwa petapa, ini bukan cerita dibaluti keindahan semata, ada ruh membuncah tafsirkan nafas kalimah.

Hanya penerimaan baik getarkan indra pamungkas, menjelma kidungan selalu digubah, sebagai prasasti kekayaan dunia.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )