Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
KEPADA PENYAIR
Alexander Pushkin
Pantangkan penyair, mengharap sanjung yang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kaudengar putusan timbangan Pak Tolol
Dan ketawa halayak yang bikin hati patah;
Tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
Rajalah engkau dan nasib raja hidup sendiri.
Bathin bebas didiri berseru padamu: Teruskan!
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap-puji atas buah ciptamu.
Puji berakar di bathin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
Tapi, andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong
Peduli mereka meludah dinyala siar mimbarmu
Dan pada tarian asap menyan dari kuilmu.
*) dari buku Puisi Dunia jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952.
Jaman gemilang abad 19 kesusastraan Rusia didahului kemegahan Aliran Klasik, dipelopori Krylov, Derzjawin, Joukowsky, yang puncaknya Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837). Seperti penyair-penyair Eropa Timur, jikalau berkenalan Byron diharukan gubahan-gubahan, tapi romantik Byron pada Pushkin berganti corak realistis. Pada usia 22 tahun terbit karangannya “Ruslan dan Ludmilla” disusul “Tawanan di Kaukasus” yang disusunnya dalam pembuangan. Naskah drama sejarahnya bertitel “Boris Godunov” dan sajaknya yang lain “Poltawa” (1828) juga berbau romantik, tapi sejak berkenalan dengan Shakespeare, membawanya condong pada realistis. Kenyataan paling tragis, kejantanannya dipertaruhkan dalam pertarungan anggar, hingga menyudahi nyawanya di tahun 1837.
***
Seperti dendang keras di kepala, batu-batu pendirian memukul waktu padatan keyakinan, penyair pejuang kusemat namanya.
Tidak berhenti hujamkan belati kesungguhan, atas kata sampai menggigil, mentalnya ditempa sendiri di kisaran masa.
Kokohnya setegar pohon purba jiwanya tak mempan digergaji cibir pilu amukan masa.
Merangsek bagai kapal di tengah samudra tak mungkin lemparkan jangkar, menari-nari ikuti ritme gelombang bathiniah.
Meluncur sebola api diuntahkan ular naga, tiada henti kepalkan tangan, baginya tiada guna siksa kesunyian pula tepuk tangan panjang.
Sebab yang sejati keberanian, hatinya meremaja, tapi sukmanya setua rimbun daun-daun angkasa, atas pengetahuan merambahi pustaka dunia.
Dirinya tak ingin jadi mayat sia-sia, menggembol nasibnya nun jauh ke puncak pengunungan sajak.
Tiada angin semua hampa ketika kepenyairannya manafaskan kalimah, keelokan kenang dibawanya matahari.
Tiadalah pamrih, hanya insan tegar sudi fahami warna, dari sanalah Pushkin melukis riwayatnya.
Nyala setiap hari menggelinjak kobarkan segala, menuju ujung uji coba memantabkan kata-kata.
Jalan pernah dilalui takkan dilewati, andai terbentur tidak menjilati kebusukan lama.
Gairah meledak-ledak jantungnya dipompa jutaan masa, digayuh rindu melampaui mata-mata.
Kisah para penyair dituntaskan, dirinya menempati sudut diimani, jarak diperhitungkan menggosongkan laku.
Syaraf-syaraf menggelisah melebihi kritik penalaran puitik, analisanya bercepatan bintang hangus ditelan perubahan.
Bukan lemparan dadu tapi otaknya menelisiki tidur dibawanya mimpi gubahan terindah sampai terjaga.
Menulis di larut malam kekosongan tubuh terdapat limpahan, penyiksaan diri kerasnya usaha menyerat aura berseliweran.
Digodoknya di tungku jiwa, diaduk-aduk mengental selumatan serpihan menjelma kesatuan.
Magnit niatnya berikatan otot mendaging kesungguhan kemerah, buah ranum dihidangkan perjamuan matahari.
Nyawa dipertaruhkan keberanian, kegilaan di sebalik romantis, realitas sampai ambang tragis kesintingan.
Dari sana terpancang kesadaran kata bermula gema, gurat makna membeledak berjuta dalam batok kepala.
Bahasa lingkar warna melesat antar benua, planet pun galaksi malam tak malam jika tanpa anggur mati rasa.
Jantung satunya seniman dipertaruhkan, perasaan ludes dipukuli realitas ditanggung pilihan keblinger.
Tapi tidakkah ketinggian pandang terhampar setubuh cakrawala, suara kata-kata menyusup dari batas-batas anasir jamannya.
Sampai gairah hidup mati berbangkit gentayangan, satu detikan picu jauh mampu kembalikan ingatan.
Kejatuhan ulang tak dirasai, diri sudah faham lautan masa depan, lebih gemuruh dari dimaknai waktu itu.
Tiada berleha menumpahkan yang terserap, hisapan candu dihayati kesuntukan melebihi dukun santen.
Adalah jarum-jarum tak berhenti mencari tiada tanding tiada banding; rasa sedari rasa telah mati rasa, Pushkin ada.
Sungguh berat menyunggi beban kata di kota keras, pertarungan hidup mati dalam laknat siksa sendirian, kalau kaki-kaki tetap berkuda meyakini.
Yang diembannya dalam hayat, hantamannya paling keras tak buat gembira atau beringas tanpa kendali.
Dirinya tetap yakin, keterjagaan kata sampai mati dikerubungi sakit tetap terima.
Sebagai penutup kupersembahkan puisi bagimu:
UNTUK ALEXANDER PUSJKIN
Meratapi tebing nasib
hatinya mendekap belukar,
dibawanya kutukan para nabi
hidup yang perih merongga kekal.
Ketika angin di jemarinya
merambati leliku waktu,
tubuh yang terbenam malam
dikepakkan sayap lautan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar