Minggu, 17 Januari 2010

Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

KEPADA PENYAIR
Alexander Pushkin

Pantangkan penyair, mengharap sanjung yang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kaudengar putusan timbangan Pak Tolol
Dan ketawa halayak yang bikin hati patah;
Tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
Rajalah engkau dan nasib raja hidup sendiri.
Bathin bebas didiri berseru padamu: Teruskan!
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap-puji atas buah ciptamu.
Puji berakar di bathin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
Tapi, andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong
Peduli mereka meludah dinyala siar mimbarmu
Dan pada tarian asap menyan dari kuilmu.

*) dari buku Puisi Dunia jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952.

Jaman gemilang abad 19 kesusastraan Rusia didahului kemegahan Aliran Klasik, dipelopori Krylov, Derzjawin, Joukowsky, yang puncaknya Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837). Seperti penyair-penyair Eropa Timur, jikalau berkenalan Byron diharukan gubahan-gubahan, tapi romantik Byron pada Pushkin berganti corak realistis. Pada usia 22 tahun terbit karangannya “Ruslan dan Ludmilla” disusul “Tawanan di Kaukasus” yang disusunnya dalam pembuangan. Naskah drama sejarahnya bertitel “Boris Godunov” dan sajaknya yang lain “Poltawa” (1828) juga berbau romantik, tapi sejak berkenalan dengan Shakespeare, membawanya condong pada realistis. Kenyataan paling tragis, kejantanannya dipertaruhkan dalam pertarungan anggar, hingga menyudahi nyawanya di tahun 1837.
***

Seperti dendang keras di kepala, batu-batu pendirian memukul waktu padatan keyakinan, penyair pejuang kusemat namanya.

Tidak berhenti hujamkan belati kesungguhan, atas kata sampai menggigil, mentalnya ditempa sendiri di kisaran masa.

Kokohnya setegar pohon purba jiwanya tak mempan digergaji cibir pilu amukan masa.

Merangsek bagai kapal di tengah samudra tak mungkin lemparkan jangkar, menari-nari ikuti ritme gelombang bathiniah.

Meluncur sebola api diuntahkan ular naga, tiada henti kepalkan tangan, baginya tiada guna siksa kesunyian pula tepuk tangan panjang.

Sebab yang sejati keberanian, hatinya meremaja, tapi sukmanya setua rimbun daun-daun angkasa, atas pengetahuan merambahi pustaka dunia.

Dirinya tak ingin jadi mayat sia-sia, menggembol nasibnya nun jauh ke puncak pengunungan sajak.

Tiada angin semua hampa ketika kepenyairannya manafaskan kalimah, keelokan kenang dibawanya matahari.

Tiadalah pamrih, hanya insan tegar sudi fahami warna, dari sanalah Pushkin melukis riwayatnya.

Nyala setiap hari menggelinjak kobarkan segala, menuju ujung uji coba memantabkan kata-kata.

Jalan pernah dilalui takkan dilewati, andai terbentur tidak menjilati kebusukan lama.

Gairah meledak-ledak jantungnya dipompa jutaan masa, digayuh rindu melampaui mata-mata.

Kisah para penyair dituntaskan, dirinya menempati sudut diimani, jarak diperhitungkan menggosongkan laku.

Syaraf-syaraf menggelisah melebihi kritik penalaran puitik, analisanya bercepatan bintang hangus ditelan perubahan.

Bukan lemparan dadu tapi otaknya menelisiki tidur dibawanya mimpi gubahan terindah sampai terjaga.

Menulis di larut malam kekosongan tubuh terdapat limpahan, penyiksaan diri kerasnya usaha menyerat aura berseliweran.

Digodoknya di tungku jiwa, diaduk-aduk mengental selumatan serpihan menjelma kesatuan.

Magnit niatnya berikatan otot mendaging kesungguhan kemerah, buah ranum dihidangkan perjamuan matahari.

Nyawa dipertaruhkan keberanian, kegilaan di sebalik romantis, realitas sampai ambang tragis kesintingan.

Dari sana terpancang kesadaran kata bermula gema, gurat makna membeledak berjuta dalam batok kepala.

Bahasa lingkar warna melesat antar benua, planet pun galaksi malam tak malam jika tanpa anggur mati rasa.

Jantung satunya seniman dipertaruhkan, perasaan ludes dipukuli realitas ditanggung pilihan keblinger.

Tapi tidakkah ketinggian pandang terhampar setubuh cakrawala, suara kata-kata menyusup dari batas-batas anasir jamannya.

Sampai gairah hidup mati berbangkit gentayangan, satu detikan picu jauh mampu kembalikan ingatan.

Kejatuhan ulang tak dirasai, diri sudah faham lautan masa depan, lebih gemuruh dari dimaknai waktu itu.

Tiada berleha menumpahkan yang terserap, hisapan candu dihayati kesuntukan melebihi dukun santen.

Adalah jarum-jarum tak berhenti mencari tiada tanding tiada banding; rasa sedari rasa telah mati rasa, Pushkin ada.

Sungguh berat menyunggi beban kata di kota keras, pertarungan hidup mati dalam laknat siksa sendirian, kalau kaki-kaki tetap berkuda meyakini.

Yang diembannya dalam hayat, hantamannya paling keras tak buat gembira atau beringas tanpa kendali.

Dirinya tetap yakin, keterjagaan kata sampai mati dikerubungi sakit tetap terima.

Sebagai penutup kupersembahkan puisi bagimu:

UNTUK ALEXANDER PUSJKIN

Meratapi tebing nasib
hatinya mendekap belukar,
dibawanya kutukan para nabi
hidup yang perih merongga kekal.

Ketika angin di jemarinya
merambati leliku waktu,
tubuh yang terbenam malam
dikepakkan sayap lautan.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )