Kamis, 08 Juli 2010

MENGULITI MAKNA SAKRAL

Nurel Javissyarqi*

Sakral itu mendiami kerahasiaan diri. Menjelma kesakralan umum saat dikumandangkan dalam gaung atmosfir yang serupa. Ia terbentuk atas reruang kebisingan profan, dari padatnya suara-suara kedirian yang terpencil. Dan hadir di kala mempercayainya sebagai kekhusukan makna. Dirinya bukan di ambang logika murni, sebab timbangannya perasaan nurani. Tetapi melalui kesibukan pun sanggup tercipta.

Atau berangkat dari daya yang disakralkan sejenis kerahasian. Gairah diri ditetapkan, lantas menggiring nalar-perasaan orang lain ke dalam emosi pribadi yang mewujudkan kesakralan bersama. Awal dari ketidaklaziman semisal mempercayai pohon besar. Dan bonsai yang tak wajar di masukkan dalam bagian tersendiri, lalu terbentuklah kehususan di kemudian hari.

Kesakralan menuju keadaan semula; kesadaran masa kecil atau harapan mendatang, yang jelas bukan kekinian dalam barisan logika awam. Andai menempati nalar kekinian, tentu terdukung situasi hening; waktu-waktu permohonan doa. Kerja kesungguhan bathin-raga yang menggerakkan semangat ke arahnya, sebagai mata rantainya pada wilayah profan, atas hasil yang tampak di luar perkiraan.

Hari-hari dilogikakan waktunya serupa perubahan gemintang mengenai nasib manusia. Inilah sisi lain logika sakral, atau realitas nalar pun sanggup dimasukinya. Ruangannya dalam diri sendiri; rahasia memproses pribadi memaknai hayati dengan mendialogkan suara-suara profan dalam bingkai kesakralan manunggal.

Sakral bukan pembedah tetapi yang dibedah, ia tidak memiliki daya sendiri sebelum insan menempelkan identitasnya, oleh kerahasiaan merasai sesuatu. Kalau suatu kursi pun yang lainnya disebut sakral, sebab melihatnya dengan pandangan masa lampau; kesadaran itulah yang menimbullah angan (sejarah) sebelumnya. Angan itu pembentuk asosiasi kesadaran, dan di saat menyebutnya memiliki makna sakral. Atau oleh pantulan pribadi manusianya, kesakralan ada.

Manusia, apalagi yang profan; menyembunyikan apa yang disakralkan dalam perasaannya, terbukti lebih banyak diam daripada mengutarakan percakapan bathiniahnya. Atau ruang-ruang pemberhentian itu melingkupi suara rahasia. Al-hasil, kesakralan ada sebelum datangnya profan. Namun bukan terbentuk sedari sugesti, ia di atas tingkatan itu, tetapi kadang kala bernasib sama jika telah menemukan penalarannya. Sedangkan kesakralan murni ialah hasil dari kerahasiaan bathiniah.

Kita menempatkan sesuatu dalam bentuk sakral, lantas di kemudian masa tidak lagi. Ini bukan berarti perpindahan kedewasaan, namun nalar kita sudah tidak merasa asing. Hal itulah yang dilakukan manusia profan untuk menghapus nilai-nilai sakral, namun tidak mungkin mampu membuang semua kesakralan dalam dirinya. Sebab insan mempunyai yang terahasia. Dan penilaian keprofanan bisa menjelma kesakralan, pada sudut terpencil perasaan, saat memaknai kesadaran diri pada belahan hidup yang damai, di sanalah ia membentuk dunianya.

*) Pengelana asal Lamongan, JaTim. 17 Mei 2006. 09.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )