Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj
Di kedalaman akrab, bangsa yang sangat kurasakan. Timbullah kesangsian, keraguan mempertanyakan, membentuk kabut tak menyatukan kesadaran, melambung ke atas kejadian rekaman jauh tidak karuan. Di suatu dataran bersinambung danau lautan keindahan, damai dalam kurun masa-masa, di mana penduduk kepulauan tersebut terikat kesatuan adat-adat.
Datanglah bangsa asing ingin menguasai. Oleh bangsa pribumi yang pandai berkuasa, juga senang dikuasai di masa lain. Atau ini putaran balik kejiwaan yakin menjadi minder, dari kesatria lalu takut berperang. Atau tak ingin perpecahan, sebab mengetahui akibat pertumpahan darah mencederai turunan, maka mencintai perdamaian dan dikuasai.
Ini lecutan cambuk tak kenai tubuh, tapi merindingkan bulu-bulu menggelegakkan keringat. Bangsa asing, demikian kejadiannya ganjil; warna kulit aneh, bahasanya suwong, tindak-tanduknya sanggup menghipnotis. Dan para penonton mendatangi kisah asing, drama yang dibiarkan nyata hingga berabad-abad terlupa. Para pribumi tertarik hal baru, sesuatu yang tak dikenali lebih dekat, sampai keasingan terawat, inikah wujud kebodohan melestarikan keganjilan.
Adalah ketololan, jika yang ganjil dibiarkan merajalela. Bangsa asing menyimak pribumi tidaklah asing, seperti para budak di kampungnya. Atau bangsa asing terlampau tinggi merasakan nyala jiwanya, sampai menyembulkan aura kekuasaan, dan pribumi semasih takjub keadaan.
Lalu datang bangsa asing lainnya, pribumi tak merasakan ganjil, sebab telah lama hidup bersama keganjilan. Dua lukisan aneh menjadi tidak asing atas jarak keduanya, penduduk pribumi mulai sadar kehidupan. Yang asing bilamana ditumpuk tak lagi ganjil, memasuki pengertian nyata.
Atau yang kedua berdekatan tubuh pribumi. Semacam pandangan mengatur kesadaran kini, bangsa pribumi mulai bergerak berani menyatakan kemerdekaan. Namun sayang masih suka kedudukan, maka terbelenggu sampai sekarang.
Sifat yang tampak baik dikekalkan bagi mempercayai. Ini keburukan pemilih kemerdekaan dengan membeli barang. Bangsa pribumi sangat konsumtif, dan kadang keterlaluan kreatif hingga sebangsanya memandang ganjil. Suatu temuan di atas logika sebelumnya, menjadi sulit diterima kalau tidak berkuasa.
Cita-cita penguasa bangsa amburadul mencipta nyanyian adu-domba, jiwa makan tubuh saudara. Sebab anak turun kesatria, tapi sayang masih melek kebendaan yang bukan tempatnya kuasa, sebab masih diperintah gagasan luaran. Itukah perbudakan? Pengucilan naluri meminderkan, keculasan salah tempat, kecemburuan salah letak, keberanian salah arah. Bukan mengangkat yang asing menjadi pelajaran, memenuhi terangnya makna penindasan.
Bangsa pribumi sungguh angkuh, namun salah sasaran, menyombongkan sejarah pendahulu, membanggakan nenek moyang, menganggap dirinya anak turun raja-raja. Namun yang tampak sebangsa pelamun, pembesaran diri memompa dada hingga sulit bernafas secara sehat.
Orang-orang pribumi bersemangat kerja tinggi, tapi sayang menunggu cambukan atau ditakut-takuti senapan yang sebenarnya tidak memiliki masa. Ketika penjaga pulas, larut turun-temurun tiada kesudahan. Padahal anak turunnya tak mengalami hal menyedihkan, namun seolah barusan terima kegetiran, dan setiap hari menghibur diri yang alam berikan. Inikah bangsa berjiwa besar oleh tak mau bekerja? Atau anak turun begundal, menarik pajak tapi tak membayar semangat kerja anak-anaknya.
Ini gambaran patut dicerita, kisah antik menggelitik. Suatu lelucon tak dibuat-buat sebab telah menjadi bahan tertawaan. Di antaranya memainkan sandiwara lalu lainya beramai-ramai menjadi pemain drama, ada yang menonton seolah nikmat, lantas semuanya ingin jadi penonton. Ini kerja yang banyak menghisap tenaga, sampai tiada yang dikerjakan, setiap hari baca berita tanpa berbuat suatu kisah hidupnya berharga.
Bangsa amburadul senang penghargaan tapi tak mau berusaha, sebab dengan membeli sudah cukup mendapatkan, katanya. Jangan-jangan bukan penghargaan tetapi penghinaan. Seolah dirinya sulit membedakan, sebab sejak belia tak pernah terhinakan. Selalu dikisahnya yang elok rupawan, pulau negerinya memukau, padahal kering kerontang, banjir keterlaluan kerap menyerang.
Kedekatan hanyalah baju kalender yang sering dilupakan. Sekadar pelengkap ketika bertandang ke rumah tetangga. Bangsa ini juga memiliki malu hingga memalukan cermin sendiri, dan menjadi obrolan tawa negeri sebelahnya. Apakah punya jati diri? Namanya saja amburadul, jati dirinya tak karuan, tidak patut dicontoh tapi mungkin dijiplak. Bangsa ini suka menjiplak, membuat barang-barang palsu. Barang asli miliknya dianggap kampungan, ketika diambil bangsa luar dan dipatenkan, mereka kebakaran.
Sebenarnya bangsa ini beranak-anak cerdas, namun tak kuat melarat lalu kabur ke luar negeri, dan memiliki kewarganegaraan lain, atau sungguh takkan pulang atas ulah penguasa tidak menghargai karya-karyanya, menguap tidak meninggalkan bekas. Ini kesalahan siapa?
Kepala negara bangsa amburadul pun banyak ulah ini itu, tak ke satu tujuan memberdayakan bangsanya menuju realitas memperjuangkan harkat sebagai warga dunia, malah tidur bangun kesiangan yang malamnya tidak berjaga. Atau bangsa amburadul masih pulas mendengkur, dan yang tampak seorang ngelindur (suatu aturan tidak mengikat bagi sesuatu yang tak sadarkan diri).
Mungkin karena itu, bangsa amburadul menyukai ketaksadaran. Suatu hal disengaja demi kepuasan tidak jelas juntrungnya, tahu-tahu senja, malam menyesal atau masih berpesta. Ini pembuangan sesal menuju ramainya pesta, menghilangkan kesadaran demi percumbuan sementara.
Bangsa ini pemboros, tidak persiapkan anak-anaknya, malah kenyangkan nafsunya semata. Tiada tanggung jawab, egois keblinger, fanatik tutup kuping, namun juga punya pencuri yang bertanggung jawab atas anak-anaknya sebab tak adanya lapangan kerja.
Semua tercipta demi penjarahan nantinya, rumah peribadatan dibangun tinggi untuk kesuwungan, tiada lahan pekuburan sesal, sebab merasa perasaannya tak pernah kering, seperti penguasa yang tidak mempunyai kekuasaan. Dan jembatan layang dibuat demi ugal-ugalan anak-anaknya. Bisanya merakit, akunya pencipta. Hanya Tuhan penyelesaiannya, sebab bangsa ini tak ingin merampungkan kebodohannya.
2005 Lamongan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar