Nurel Javissyarqi
Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif dan sempurna puas dengan dirinya yang sebenarnya, manusia disempurnakan dan dilengkapi dengan kepuasan ini, akan menjadi Budak yang telah “mengatasi” Perbudakannya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka Perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial dan histori. Sejarah ialah sejarah Budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).
Di sini tidak menyebut budaya menurut para tokoh, sebab telah diterangkan para pendahulu literer. Yang ditekankan memasuki jarak penikmat demi mengamankan referensi duga-ingatan sebelumnya. Kebudayaan ialah kesadaran hidup dan kelangsungannya, gerak mewujudkan tradisi sebagai akarnya. Pun kini tidak memberi misal karena pemerhati tentu telah menjangkau, ini sekadar bandingan demi mendapati titik seimbang.
Satuan cara guna budaya berkembang tanpa mencederai yang lain, sejenis kerja mengurangi tingkat resiko tragedi pemahaman. Kebudayaan merupakan watak peradaban atau keadaban itu tingkah laku mencerminkan budaya bertautan tempat, iklim, musim, suku, sekte, agama juga gerak kemajuan akal budi sejarah manusia.
Seolah tidak mungkin berbicara budaya dengan meninggalkan daya perasaan, mencakup kebutuhan dalam keberlangsungan hayat, disiplin keilmuan dari kesadaran pengembangan. Budaya ialah rentetan laku sebelumnya dan kebudayaan berkaitan kekuasaan cinta, benci, harapan pun angan. Lebih agresif menajamkan karakteristik perilaku sedari sudut pengalaman.
Pengalaman tertahan menjelma hantu ingatan menghujam, tidak dapat dipungkiri setiap pengamatan memperoleh penilaian normal dan abnormal, di samping remang keraguan. Olehnya berharap jangkau penggalian mengeluarkan ide dasar relung kelahiran sebab kala prosesi akan terketahui tandanya. Asal mana diadakan atau pergumulan bathin dari nalar perasaan. Ini sengaja tidak mengerucutkan periode, klasik ke pencerahan, puncak strukturalis ke post-modern &st.
Sebab “Periode yang tidak jelas dan kabur, merupakan obyek khas mendorong pada pengetahuan,” Hegel. Inikah tautan ketersangkaan mematok kebudayaan dari mana kesadaran budaya, maka layak tampil menggapai perubahan dari daya pengetahuan bawaan. Ini riskan tetapi kupercayai ketinggian air laut tentu sama tidak menenggelamkan logika.
Anak-anak bangsa menganggap budayanya tertua dari lainnya, atau berharap diakui keberadaannya. Ini diberangkatkan kesadaran dominasi kuasa pemikiran, dengan strategi filosofis menghipnotis juga ramalan. Niccolo Machiavelli dalam The Discourses 1950 mengatakan; Monarki dengan gampang menjelma anarki, aristokrasi dapat memproduksi sebuah oligarki dengan mudah, dan demokrasi berubah menjadi anarki tanpa kesulitan,…
Aku percaya ada kebudayaan lahir dari bangsa A lalu B, tinggi-rendahnya tentu memiliki kaca mata kepekaan tak sama. Haruskah melewati tahap tertuntu? Kesadaran titik yang bukan satuan, tetapi jelmaan bintang menerangi langit malam. Atau kesadaran bintang berkilau terdekat dalam hati juga tidak kesampingkan lain faham. “Seorang Penulis saat ini tidak dapat melayani orang-orang yang membuat sejarah; ia harus melayani orang-orang yang menjadi sasaran sejarah;” Albert Camus.
Kenapa tidak beberkan budaya tertentu? Ada kehawatiran kata budaya nantinya milik pembaca atau penulis saja, maka rajutan benang halus dimengerti, pijakan kesadaran tak harus batu pengetahuan kukuh, dapatlah selayang awan bergravitasi beban diemban. Kebudayaan bergerak selaju gemawan menghasilkan musim, dan wujud pemberian-penerimaan kesadaran timbal-balik sebangun keadaban.
Apa yang melahirkan budaya? Awal telah disebut tradisi atau peristiwa ulang berkemiripan lelaku, kesamaan pandangan yang melahirkan petanda. Pada mereka yang gila pun ditemukan sehingga dinamai gila. Apalagi yang waras, namun ada garis kelemahan yaitu ketertarikan berbeda atau daya rayu kebutuhannya. Kita telah mengetahui ketertarikan dihasilkan dari gesekan luar masuk dalam diri.
Rangsangan yang masuk mempengaruhi watak hingga tampil di permukaan kemiripan yang melahirkan budaya. Tradisi menunjukkan prilaku yang dipengaruhi kesadaran bawaan dan pertemuan awal, maka interaksi menentukan perubahan budaya sampai jarak waktu menjadikan perubahan, dalam hitungan tertentu dinamakan sejarah.
Tilikannya; pewarna, penanda mendefinisian budaya bersinggungan bentuk serupa. Pengasosiasian kecenderungan memberi sebutan meski belum didedah, atau bisa “suka” melahirkan titik tertentu “ketidaksukaan.” Ini lahirnya idiologi, kesadaran kemiripan meski keserupaan dapat dikondisionalkan dengan rayu. Aku sepakat pengelompokan tidak menimbulkan tinggi-rendahnya, tetapi komponen satu ke seterusnya meranggai rindu.
Tidak terwujud jika tanpa kesadaran saling mengembangkan kemiripan, tiada jegal di dalam pun di luar. Mengkondisikan air mancur pada cahaya matahari berwarna pelangi. Maksud kecenderungan seirama, menjadi bagian tidak terpisah atas budaya satu dan lainnya. Ini seolah konyol namun kala perhatikan ketimpangan, sepatutnya menarik perselisihan membaca ulang tradisi, jikalau nyatanya menyandung langkah mewujudkan yang seyogyanya berkembang.
Dengan kaca mata kemanusiaan, waktu kesempatan bertukar nikmat, tiada kebencian rasa cemburu, sebab kesadaran akibat peperangan dan bencana alam, atau naluri yang kudu dipakai melangkahi jalan pelangi. Mungkin ini gagasan keblinger di siang bolong lupa pegangan, tetapi kutekankan kebudayaan tumbuh lestari, atas jemari tangan harum jabatangan, keramahan mengolah peradaban berkeyakinan.
Serupa mitologi segelintir orang, namun kuyakin tidak menguap sebab berlandaskan naluri. Kerinduan sesapuan kuas lukisan Hegel yang direkam Fukuyama:
Sejarah akan berakhir karena kerinduan yang mengendalikan proses sejarah - perjuangan demi pengakuan - sekarang telah - terpenuhi dalam suatu masyarakat yang dicirikan oleh pengakuan universal dan pengakuan timbal balik. Tidak ada tatanan lain dari institusi-institusi sosial manusia yang mampu memuaskan kerinduan ini, karenanya tidak mungkin terjadi perubahan sejarah -progresif lebih lanjut.
Namun kubertanya; benarkah ketidakmungkinan terjadi? Jangan-jangan hawatir dianggap dukun yang tidak professional.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar