Rabu, 14 April 2010

Igor Stravinsky (1882-1971)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Igor Fyodorovich Stravinsky (17 Juni 1882 - 6 April 1971) komponis berkebangsaan Rusia. Menjadi terkenal di majalah TIME, punya hobi mengubah-ubah ketukan, manakala mengeksploitasi elemen ritme. Kali ini aku ditemani dentingan pianis Yuja Wang lewat You Tube pada permainannya Petrouchka. Atau Petrushka, balet dengan musik komposer Igor Stravinsky. Petrushka ialah kisah boneka tradisional Rusia yang terbuat dari jerami, dengan sekantong serbuk gergaji sebagai tubuh, tapi datang untuk hidup mengembangkan emosi. Cerita dangkal menyerupai Pinokio, namun mungkin ada banyak kesamaan Mary Shelley’s Frankenstein. Menurut Andrew Wachtel: Petrushka adalah sebuah karya memadukan musik, balet, koreografi dan sejarah dalam keseimbangan sempurna. Ini mirip Richard Wagner’s Gesamtkunstwerk, dengan pendekatan Rusia. {meramu dari http://en.wikipedia.org/wiki/Petrushka_%28ballet%29}

Musik Petrushka semata-mata musik, ia berada di hadapan penyair musik dan tidak dalam hatinya. Tidak menimbulkan fikiran-fikiran maupun lukisan-lukisan, semata-mata obyektif, ia bukan komentar libretto, sebaliknya librerttolah memberikan komentar.
Suatu pribadi aneh. Tak bisa disangkal lagi ia ialah seni musik paling besar dijaman ini. Stravinsky berada jauh dari romantisme dan impressionisme. Padanya musik merupakan tenaga bebas, seperti hitungan matematis atau berfikir logis, gaya berat atau angin. Ia lepas dari manusia-, bukan subyektivisme-, lepas dari dunia- bukan pelukisan. Ia tidak hendak menganalisa jiwa, tidak melukiskan benda-benda, tapi semata-mata memberikan bunyi. Seni Stravinsky tidak memperlihatkan evolusi. Tiap ciptaannya selamanya baru, berbeda dengan sebelumnya. Tiap komposisi bisa dipandang berdiri sendiri. {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***

Musik Stravinsky sepenuhnya mengajak berfikir atas kecerdasan manusiawi. Yang disenandungkan bukan gugusan kalbu merindu, ada suatu keganjilan hidup.

Masa depan baginya dapat dinalar dengan keluar dari hati. Tak ada mimpi-mimpi, seluruhnya otak dinamis.

Nafas-nafas logika, percepatan kelembutan hukum pasti, susunan gemintang di tempat masing-masing.

Namun dengan jarak tertentu dapat ditangkap lukisan, meski kering. Sapuan kuas nada-nada serba dihitung, tampak memberi rerongga nafas, walau terlihat kaku.

Ketika musiknya telah menyatu di ingatan penyimak, didapatilah pesona. Ketakjuban memeriksa padatan kerja, diterima betapa indah bagi pribadi dinamis.

Hidup menanjak, grafik meminta kecermatan, demi tatanan ruang dimanfaatkan berkesungguhan hayati.

Pastinya tidak memiliki rayuan kalbu, kecuali terpantul dari fikiran. Harapan dari anganan alot berkehati-hatian memondasi serupa sketsa bangunan yang dicanangkan.

Tidak lebih taksiran matematis, ruang diisi penyelidikan berulang, pemeriksaan kesampingkan perasaan, tinggal ada keseimbangan fikir.

Bertenaga dari badan logis, permainan menerbitkan keindahan lain, sebuah musik yang tetap manusiawi.

Ketika Stravinsky menyuguhkan musiknya dengan mengangkat cerita Petrushka, benar-benar hidup.

Pengkolaborasi saling perkuat nilai-nilai yang ada, dari hikayat rakyat, pekerti filosofis pula keanggunan alam.

Sehingga yang tampak kering masih bersimpan nafas kenangan, serta kekakuan mempercantik meditasinya.

Apalagi dibantu tarian balet juga yang memainkan perempuan. Olehnya sejarah pendukung musiknya bernafasan terindah.

Seakan kecemerlangan gedung-gedung bertingkat, jembatan layang menghubungkan pulau-pulau, atau patung termegah di tengah kota.

Ada yang berhembus darinya, meski tidak berangkat dari garis emosional.

Pada diri Stravinsky tercermin pencari rumus, kerap menemukan dari penyelidikannya ke ruang-ruang buntu.

Bagian-bagian temuannya dipadatkan semisal ahli matematika mencari teori baru, untuk lebih mudah dicerna dari rumusan sebelumnya.

Ia bukan penyair musik yang mengikuti naluri angin perubahan bathin, bukan pengembara tubuh dirasa, lantas dituangkan berupa karya.

Tapi bunyi-bunyian diselidikinya dalam laboratorium nada-nada masuk akal. Sisi pelajar yang patuh aturan dengan tidak lupa mencurigai hasil usaha.

Di sinilah rahasianya, kenapa setiap ciptaannya selalu baru, berbeda dengan perolehan-perolehan di muka.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )