Senin, 01 Maret 2010

Minamoto Yorimasa (1106-1180)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Minamoto Yorimasa (1106-1180), penyair Jepang yang karya-karyanya muncul di banyak antologi. Dialah seorang samurai hebat, ketua Pengawal Kerajaan, pernah memimpin pasukan Minamoto dalam perang Genpei. Tahun 1150, membunuh monster Nue dengan sebuah anak panah, atas jasanya Kaisar Konoe menghadiahkan pedang. Tahun 1156, mengikuti pemberontakan Hogen. 1179 berhenti dari pasukan Kiyomori, berubah fikiran melawan klannya sendiri, pada akhirnya menjadi pendeta Budha. Mei 1180, mengirimkan permohonan kepada ketua Minamoto yang lain, ke kuil juga biara yang pernah diserangnya. Yorimasa meninggal dalam perang Genpei (1180-1185), ketika pasukannya terjepit dan menyelamatkan diri ke kuil Byodo-in. Sebelum harakiri, Yorimasa menghadap ke arah barat, mengatubkan tangannya sambil bersenandung “Sambutlah Amida Budha” berkali-kali bersuara lantang, kemudian menuliskan puisi, serupa di bawah ini:

Seperti sebuah pohon tua
Yang tak pernah berbunga
Kesedihan adalah hidupku
Kesedihan, tetap menghantui
hingga akhir hidupku
Sudah takdir, tiada berbuah.

Setelah mengucapkannya, Yorimasa menusukkan ujung pedang ke perutnya. Menundukkan kepala ke tanah, dengan pisau menembus tubuhnya, lantas mati. {keterangan singkat dari buku Sang Samurai, penerbit Pinus, 2009, disusun Agata P. Ranjabar}
***

Tidak tersangkal, bangsa tangguh yang sanggup melesat laksana kilatan cahaya menembus masa depan. Karena anak-anaknya bermental pemberani dalam menjaga harga diri.

Bangsa Jepang kurasa dapat dipercontohkan kini. Dari keterpurukan pengeboman di Hiroshima pula Nagasaki, pada serangan nuklir Perang Dunia ke II.

Seperti ada sesuatu dibanggakan, selepas kerja suntuk. Dan nilai-nilai warisan nenek moyang dipelihara dengan hormat, bukan mengangkat terlalu tinggi, lantas berbesar hati.

Namun kesungguhan keras menghujami sanubari, hingga yang hadir bukan kesombongan. Tapi rasa syukur tidak pernah puas, terus belajar membenahi diri, demi martabat berbudhi pekerti.

Yorimasa, seperti para jawara pedang dan ahli memanah lain di negeri Sakura, sudah melewati peperangan besar pula kecil.

Jemari tangannya menyatu kuat; kilatan senjata, sambaran matanya menyerupai bara, atas pande besi menempa sebilah niat.

Seakan ada yang harus diselesaikan sebelum gugurnya daun-daun, jatuhnya salju semalam, angin membinasakan, juga menghidupkan nafas-nafas rumput ilalang.

Pepohon bambu menggarit langit biru menggaris nasibnya pada awan gemawan, sedang senyum dinginnya sulit diartikan.

Di perbatasan tertentu, perhitungan menjadi jalannya takdir. Detik-detik mawas diri mengunci jiwa, tak lepas serupa merpati terlena, memagut percumbuan kasih.

Senafas bau baja yang tajam, tercium hidung mengagumkan, dan gurat di lengan bertanda waktu pernah dilalui beringas, kasar menawan keterlenaan.

Manakala dielus wanita menuju anganan, yang melumpuhkan pancaindra, jikalau dirinya tidak dilambari kadikjayaan ilmu serta pengalaman.

Seorang samurai sejati, meski gerak pedangnya selesatan petir, menyambar pepohonan membakar amarah musuh-musuhnya, berkobar di medan perang;

Ingatannya bening bersimpan dalam bathin, sejernih renungan petapa, tidak terlewat meski sebisik masa peristiwa. Manakala menyambar hasrat, kelepakkan sayap-sayap nyawa lawan tanding.

Saat terjepit, tak begitu saja pasrah sebagai tawanan tanpa muka. Ialah keberanian setia, tangguh membela harga diri, sampai tetesan darah penghabisan.

Daripada menyerah, lebih baik memutuskan nasib atas harakiri, demi akhir penghormatan terhadap hidup.

Pun menanjaki kemenangan, rasa hormat pada musuhnya tetap ada, tidak kurang terhadap kawan-kawannya.

Menyelami puisi Yorimasa yang tercipta di ambang mati, yang ditandatangani harakiri. Bersimpan makna sesalan akhir hayati, meski telah banyak kemenangan di masa hayatnya.

Bayang-bayang kekalahan tampak kelam pekat seperti kebutaan di dalam goa. Hidup berwarna-warni hilang lenyap, bau-bau sedap bunga sirna cepat, manakala mengakhiri semua tidak di medan tempur.

Pohon tua tidak berbunga tak melahirkan buah, tinggi meranggas mencakar langit tiada payung awan sentausa. Dirasanya tiada berkah hidup, kecuali sejumput pun diterbangkan angin lupa.

Bukan pedang pendek ditakuti menghujami perut, tapi kejayaan perjuangan; hawatir semangatnya tidak menetesi kening menemui para generasi.

Inilah kesedihan dalam, kepedihan tanpa air mata, tetapi darah segar kucuran perasaan menggelora, panas merambati udara, diterbangkan angin amis menjauh.

Debu-debu menjelma kata, mata-mata menyaksikan terpanah jantung mudanya. Langit sulit mengeja nilai pertumpahan darah, hanyalah niat menentukan nafas-nafas selanjutnya.

Burung-burung bangkai tertawa memekatkan telinga, memukul kendang angkasa. Hanya angin dari tekanan udara bergesak gravitasi, menyimpan tumbal bagi bumi tercinta.

Yorimasa khidmat menatap maut, bibirnya bergetar menyerupai kecupan akhir kekasih, lantas berhembus sudah.

Tidak ada komentar:

(1813-1883) Abdul Hadi W.M. Adelbert von Chamisso (1781-1838) Affandi Koesoema (1907–1990) Agama Para Bajingan Ajip Rosidi Akhmad Taufiq Albert Camus Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837) Amy Lowell (1874-1925) Andong Buku #3 André Chénier (1762-1794) Andy Warhol Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh Anton Bruckner (1824 –1896) Apa & Siapa Penyair Indonesia Arthur Rimbaud (1854-1891) Arthur Schopenhauer (1788-1860) Arti Bumi Intaran Bahasa Bakat Balada-balada Takdir Terlalu Dini Bangsa Basoeki Abdullah (1915 -1993) Batas Pasir Nadi Beethoven Ben Okri Bentara Budaya Yogyakarta Berita Biografi Nurel Javissyarqi Budaya Buku Stensilan Bung Tomo Candi Prambanan Cantik Chairil Anwar Charles Baudelaire (1821-1867) Cover Buku Dami N. Toda Dante Alighieri (1265-1321) Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Denanyar Jombang Dendam Desa Dwi Pranoto Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eka Budianta Emily Dickinson (1830-1886) Esai Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia Feminisme Filsafat Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta Foto Lawas François Villon (1430-1480) Franz Schubert (1797-1828) Frederick Delius (1862-1934) Friedrich Nietzsche (1844-1900) Friedrich Schiller (1759-1805) G. J. Resink (1911-1997) Gabriela Mistral (1889-1957) Goethe Hallaj Hantu Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier (1864-1936) Henry Lawson (1867-1922) Hermann Hesse Ichsa Chusnul Chotimah Identitas Iftitahur Rohmah Ignas Kleden Igor Stravinsky (1882-1971) Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo Indonesia Ingatan Iqbal Ismiyati Mukarromah Javissyarqi Muhammada Johannes Brahms (1833-1897) John Keats (1795-1821) José de Espronceda (1808-1842) Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937) Jostein Gaarder Kadipaten Kulon 49 c Kajian Budaya Semi Karya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kata-kata Mutiara Kausalitas Kedutaan Perancis Kegagalan Kegelisahan Kekuasaan Kemenyan Ken Angrok Kenyataan Kesadaran KH. M. Najib Muhammad Khalil Gibran (1883-1931) Kitab Para Malaikat Kitab Para Malaikat (Book of the Angels) Komunitas Deo Gratias Konsep Korupsi Kritik Sastra Kulya dalam Relung Filsafat Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana Lintang Sastra Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lupa Magetan Makna Maman S. Mahayana Marco Polo (1254-1324) Masa Depan Matahari Max Dauthendey (1867-1918) Media: Crayon on Paper MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Michelangelo (1475-1564) Mimpi Minamoto Yorimasa (1106-1180) Mistik Mitos Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881) Mohammad Yamin Mojokerto Mozart Natural Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pablo Neruda Pahlawan Pangeran Diponegoro Panggung Paul Valéry (1871-1945) PDS H.B. Jassin Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949) Pembangunan Pemberontak Pendapat Pengangguran Pengarang Penjajakan Penjarahan Penyair Penyair Tak Dikenal Peperangan Perang Percy Bysshe Shelley (1792–1822) Perkalian Pierre de Ronsard (1524-1585) PKI Plagiator Post-modern Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi) Presiden Penyair Proses Kreatif Puisi Puitik Pujangga PUstaka puJAngga R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Rainer Maria Rilke (1875-1926) Realitas Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo Revolusi Revormasi Richard Strauss (1864-1949) Richard Wagner (1813-1883) Rimsky-Korsakov (1844-1908) Rindu Robert Desnos (1900-1945) Rosalía de Castro (1837-1885) Ruang Rumi Sajak Sakral Santa Teresa (1515-1582) Sapu Jagad Sara Teasdale (1884-1933) Sastra SastraNESIA Sayap-sayap Sembrani Segenggam Debu di Langit Sejarah Self Portrait Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seni Serikat Petani Lampung Shadra Sihar Ramses Simatupang Sumpah Pemuda Sungai Surabaya Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri tas Sastra Mangkubumen (KSM) Taufiq Wr. Hidayat Telaga Sarangan Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thales Trilogi Kesadaran Tubuh Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga Universitas Jember Waktu Walter Savage Landor (1775-1864) Wawan Pinhole William Blake (1757-1827) William Butler Yeats (1865-1939) Wislawa Szymborska Yasunari Kawabata (1899-1972) Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017 Yogyakarta Yuja Wang Yukio Mishima (1925-1970) Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )