Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/
Minamoto Yorimasa (1106-1180), penyair Jepang yang karya-karyanya muncul di banyak antologi. Dialah seorang samurai hebat, ketua Pengawal Kerajaan, pernah memimpin pasukan Minamoto dalam perang Genpei. Tahun 1150, membunuh monster Nue dengan sebuah anak panah, atas jasanya Kaisar Konoe menghadiahkan pedang. Tahun 1156, mengikuti pemberontakan Hogen. 1179 berhenti dari pasukan Kiyomori, berubah fikiran melawan klannya sendiri, pada akhirnya menjadi pendeta Budha. Mei 1180, mengirimkan permohonan kepada ketua Minamoto yang lain, ke kuil juga biara yang pernah diserangnya. Yorimasa meninggal dalam perang Genpei (1180-1185), ketika pasukannya terjepit dan menyelamatkan diri ke kuil Byodo-in. Sebelum harakiri, Yorimasa menghadap ke arah barat, mengatubkan tangannya sambil bersenandung “Sambutlah Amida Budha” berkali-kali bersuara lantang, kemudian menuliskan puisi, serupa di bawah ini:
Seperti sebuah pohon tua
Yang tak pernah berbunga
Kesedihan adalah hidupku
Kesedihan, tetap menghantui
hingga akhir hidupku
Sudah takdir, tiada berbuah.
Setelah mengucapkannya, Yorimasa menusukkan ujung pedang ke perutnya. Menundukkan kepala ke tanah, dengan pisau menembus tubuhnya, lantas mati. {keterangan singkat dari buku Sang Samurai, penerbit Pinus, 2009, disusun Agata P. Ranjabar}
***
Tidak tersangkal, bangsa tangguh yang sanggup melesat laksana kilatan cahaya menembus masa depan. Karena anak-anaknya bermental pemberani dalam menjaga harga diri.
Bangsa Jepang kurasa dapat dipercontohkan kini. Dari keterpurukan pengeboman di Hiroshima pula Nagasaki, pada serangan nuklir Perang Dunia ke II.
Seperti ada sesuatu dibanggakan, selepas kerja suntuk. Dan nilai-nilai warisan nenek moyang dipelihara dengan hormat, bukan mengangkat terlalu tinggi, lantas berbesar hati.
Namun kesungguhan keras menghujami sanubari, hingga yang hadir bukan kesombongan. Tapi rasa syukur tidak pernah puas, terus belajar membenahi diri, demi martabat berbudhi pekerti.
Yorimasa, seperti para jawara pedang dan ahli memanah lain di negeri Sakura, sudah melewati peperangan besar pula kecil.
Jemari tangannya menyatu kuat; kilatan senjata, sambaran matanya menyerupai bara, atas pande besi menempa sebilah niat.
Seakan ada yang harus diselesaikan sebelum gugurnya daun-daun, jatuhnya salju semalam, angin membinasakan, juga menghidupkan nafas-nafas rumput ilalang.
Pepohon bambu menggarit langit biru menggaris nasibnya pada awan gemawan, sedang senyum dinginnya sulit diartikan.
Di perbatasan tertentu, perhitungan menjadi jalannya takdir. Detik-detik mawas diri mengunci jiwa, tak lepas serupa merpati terlena, memagut percumbuan kasih.
Senafas bau baja yang tajam, tercium hidung mengagumkan, dan gurat di lengan bertanda waktu pernah dilalui beringas, kasar menawan keterlenaan.
Manakala dielus wanita menuju anganan, yang melumpuhkan pancaindra, jikalau dirinya tidak dilambari kadikjayaan ilmu serta pengalaman.
Seorang samurai sejati, meski gerak pedangnya selesatan petir, menyambar pepohonan membakar amarah musuh-musuhnya, berkobar di medan perang;
Ingatannya bening bersimpan dalam bathin, sejernih renungan petapa, tidak terlewat meski sebisik masa peristiwa. Manakala menyambar hasrat, kelepakkan sayap-sayap nyawa lawan tanding.
Saat terjepit, tak begitu saja pasrah sebagai tawanan tanpa muka. Ialah keberanian setia, tangguh membela harga diri, sampai tetesan darah penghabisan.
Daripada menyerah, lebih baik memutuskan nasib atas harakiri, demi akhir penghormatan terhadap hidup.
Pun menanjaki kemenangan, rasa hormat pada musuhnya tetap ada, tidak kurang terhadap kawan-kawannya.
Menyelami puisi Yorimasa yang tercipta di ambang mati, yang ditandatangani harakiri. Bersimpan makna sesalan akhir hayati, meski telah banyak kemenangan di masa hayatnya.
Bayang-bayang kekalahan tampak kelam pekat seperti kebutaan di dalam goa. Hidup berwarna-warni hilang lenyap, bau-bau sedap bunga sirna cepat, manakala mengakhiri semua tidak di medan tempur.
Pohon tua tidak berbunga tak melahirkan buah, tinggi meranggas mencakar langit tiada payung awan sentausa. Dirasanya tiada berkah hidup, kecuali sejumput pun diterbangkan angin lupa.
Bukan pedang pendek ditakuti menghujami perut, tapi kejayaan perjuangan; hawatir semangatnya tidak menetesi kening menemui para generasi.
Inilah kesedihan dalam, kepedihan tanpa air mata, tetapi darah segar kucuran perasaan menggelora, panas merambati udara, diterbangkan angin amis menjauh.
Debu-debu menjelma kata, mata-mata menyaksikan terpanah jantung mudanya. Langit sulit mengeja nilai pertumpahan darah, hanyalah niat menentukan nafas-nafas selanjutnya.
Burung-burung bangkai tertawa memekatkan telinga, memukul kendang angkasa. Hanya angin dari tekanan udara bergesak gravitasi, menyimpan tumbal bagi bumi tercinta.
Yorimasa khidmat menatap maut, bibirnya bergetar menyerupai kecupan akhir kekasih, lantas berhembus sudah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(1813-1883)
Abdul Hadi W.M.
Adelbert von Chamisso (1781-1838)
Affandi Koesoema (1907–1990)
Agama Para Bajingan
Ajip Rosidi
Akhmad Taufiq
Albert Camus
Alexander Sergeyevich Pushkin (1799–1837)
Amy Lowell (1874-1925)
Andong Buku #3
André Chénier (1762-1794)
Andy Warhol
Antologi Puisi Tunggal Sarang Ruh
Anton Bruckner (1824 –1896)
Apa & Siapa Penyair Indonesia
Arthur Rimbaud (1854-1891)
Arthur Schopenhauer (1788-1860)
Arti Bumi Intaran
Bahasa
Bakat
Balada-balada Takdir Terlalu Dini
Bangsa
Basoeki Abdullah (1915 -1993)
Batas Pasir Nadi
Beethoven
Ben Okri
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Biografi Nurel Javissyarqi
Budaya
Buku Stensilan
Bung Tomo
Candi Prambanan
Cantik
Chairil Anwar
Charles Baudelaire (1821-1867)
Cover Buku
Dami N. Toda
Dante Alighieri (1265-1321)
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Denanyar Jombang
Dendam
Desa
Dwi Pranoto
Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra
Eka Budianta
Emily Dickinson (1830-1886)
Esai
Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia
Feminisme
Filsafat
Forum Kajian Kebudayaan Hindis Yogyakarta
Foto Lawas
François Villon (1430-1480)
Franz Schubert (1797-1828)
Frederick Delius (1862-1934)
Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Friedrich Schiller (1759-1805)
G. J. Resink (1911-1997)
Gabriela Mistral (1889-1957)
Goethe
Hallaj
Hantu
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier (1864-1936)
Henry Lawson (1867-1922)
Hermann Hesse
Ichsa Chusnul Chotimah
Identitas
Iftitahur Rohmah
Ignas Kleden
Igor Stravinsky (1882-1971)
Ilustrator Cover Sony Prasetyotomo
Indonesia
Ingatan
Iqbal
Ismiyati Mukarromah
Javissyarqi Muhammada
Johannes Brahms (1833-1897)
John Keats (1795-1821)
José de Espronceda (1808-1842)
Joseph Maurice Ravel (1875 - 1937)
Jostein Gaarder
Kadipaten Kulon 49 c
Kajian Budaya Semi
Karya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kata-kata Mutiara
Kausalitas
Kedutaan Perancis
Kegagalan
Kegelisahan
Kekuasaan
Kemenyan
Ken Angrok
Kenyataan
Kesadaran
KH. M. Najib Muhammad
Khalil Gibran (1883-1931)
Kitab Para Malaikat
Kitab Para Malaikat (Book of the Angels)
Komunitas Deo Gratias
Konsep
Korupsi
Kritik Sastra
Kulya dalam Relung Filsafat
Kumpulan Cahaya Rasa Ardhana
Lintang Sastra
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lupa
Magetan
Makna
Maman S. Mahayana
Marco Polo (1254-1324)
Masa Depan
Matahari
Max Dauthendey (1867-1918)
Media: Crayon on Paper
MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Michelangelo (1475-1564)
Mimpi
Minamoto Yorimasa (1106-1180)
Mistik
Mitos
Modest Petrovich Mussorgsky (1839-1881)
Mohammad Yamin
Mojokerto
Mozart
Natural
Nurel Javissyarqi
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Pablo Neruda
Pahlawan
Pangeran Diponegoro
Panggung
Paul Valéry (1871-1945)
PDS H.B. Jassin
Pelantikan Soekarno sebagai Presiden R.I.S (17 Desember 1949)
Pembangunan
Pemberontak
Pendapat
Pengangguran
Pengarang
Penjajakan
Penjarahan
Penyair
Penyair Tak Dikenal
Peperangan
Perang
Percy Bysshe Shelley (1792–1822)
Perkalian
Pierre de Ronsard (1524-1585)
PKI
Plagiator
Post-modern
Potret Sang Pengelana (Nurel Javissyarqi)
Presiden Penyair
Proses Kreatif
Puisi
Puitik
Pujangga
PUstaka puJAngga
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Rainer Maria Rilke (1875-1926)
Realitas
Reuni Alumni 1991/1992 Mts Putra-Putri Simo
Revolusi
Revormasi
Richard Strauss (1864-1949)
Richard Wagner (1813-1883)
Rimsky-Korsakov (1844-1908)
Rindu
Robert Desnos (1900-1945)
Rosalía de Castro (1837-1885)
Ruang
Rumi
Sajak
Sakral
Santa Teresa (1515-1582)
Sapu Jagad
Sara Teasdale (1884-1933)
Sastra
SastraNESIA
Sayap-sayap Sembrani
Segenggam Debu di Langit
Sejarah
Self Portrait
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seni
Serikat Petani Lampung
Shadra
Sihar Ramses Simatupang
Sumpah Pemuda
Sungai
Surabaya
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
tas Sastra Mangkubumen (KSM)
Taufiq Wr. Hidayat
Telaga Sarangan
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Thales
Trilogi Kesadaran
Tubuh
Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Universitas Jember
Waktu
Walter Savage Landor (1775-1864)
Wawan Pinhole
William Blake (1757-1827)
William Butler Yeats (1865-1939)
Wislawa Szymborska
Yasunari Kawabata (1899-1972)
Yayasan Hari Puisi Indonesia 2017
Yogyakarta
Yuja Wang
Yukio Mishima (1925-1970)
Zadie Smith (25 Oktober 1975 - )
Kitab Para Malaikat
- MUQADDIMAH: WAKTU DI SAYAP MALAIKAT, I – XXXIX
- MEMBUKA RAGA PADMI, I: I – XCIII
- HUKUM-HUKUM PECINTA, II: I – CXIII
- BAIT-BAIT PERSEMBAHAN, III: I – XCIII
- RUANG-RUANG MENGABADIKAN, IV: I – XCVIII
- MUSIK-TARIAN KEABADIAN, V: I – LXXIV
- DIRUAPI MALAM HARUM, VI: I – LXXVII
- KEINGINAN-KEINGINAN MULIA, VII: I – LXXXVII
- DI ATAS TANDU LANGITAN, VIII: I – CXXIII
- ANAK SUNGAI FILSAFAT, IX: I – CI
- SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI
- PENAMPAKAN DOA SEMALAM, XI: I- CVI
- DUKA TANGIS BUSA, XII: I – CXVIII
- GELOMBANG MERAWAT PANTAI, XIII: I – CXI
- MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX
- PEMBANGUN DUNIA GANJIL, XV: I – XCIII
- SIANG TUBUH, MALAM JIWANYA, XVI: I – CXIII
- SECERCA CAHAYA KURNIA, XVII: I – CI
- TANAH KELAHIRAN MASA, XVIII: I – CXXVII
- RUANG-WAKTU PADAT, XIX: I – XC
- MUAKHIR; KESAKSIAN-KESAKSIAN, XX: I – CXXVI
- Mulanya
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (I)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (II)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (III)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (IV)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (V)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VI)
- Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (VII)
- Akhirnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar